student-star
Student Star
STUDENT STAR Kamis, 28/09/2017 09:24 WIB

Sapto Yogo Purnomo, Melesat Atasi Keterbatasan

Sapto Yogo Purnomo, Melesat Atasi Keterbatasan Sapto Yogo Purnomo (Foto: dok. gms.kualalumpur2017.com.my)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sapto Yogo Purnomo kecil hanya bisa menangis ketika menerima berbagai ejekan dan rundung (bully) dari anak-anak lain dan orang-orang picik di sekitarnya. Kalau sudah begitu, dia mengadukan semuanya kepada sang ibu, Umiyati.

Sapto menyadari kondisinya berbeda dan itu membuat dia tertekan. Tangan kanan dan kaki kanannya kaku sejak dia berumur 3 bulan. Cerebral Palsy (CP) menggerogoti keluwesan gerak tubuhnya.

CP, yang disebabkan oleh gangguan pada bagian otak pengatur motorik atau pergerakan otot, membuat penderitanya kesulitan dalam bergerak dan tidak jarang harus menggunakan kursi roda sepanjang hidup.

Begitu pula kondisi Sapto. Meski dia tidak sampai bergerak dengan alat bantu, jari-jari tangan kanannya menekuk, begitu pula lengannya. Di sisi serupa, kakinya pun kaku membuat dia timpang ketika berjalan. “Saya hampir selalu diejek ketika anak-anak. Mereka bilang saya tidak normal sebelahlah, inilah. Banyak,” ujar pemuda berusia 19 tahun itu.

Terang saja anak yang berayahkan seorang buruh bernama Tulus itu menjadi sangat malu dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak berdaya karena tidak bisa mengubah apa-apa. Semua itu menyebabkannya sering bolos sekolah, terutama ketika menginjak sekolah menengah pertama (SMP).

Beruntung dia punya keluarga yang senantiasa menyuntikkan semangat dan dukungan hingga membuat Sapto berhasil lulus SMP, kemudian melanjutkan pendidikan ke SMK Muhammadiyah 2 Ajibarang, Banyumas, Jawa Tengah, di tengah segala tekanan mental yang dia hadapi.

Ketika SMK ini jalan hidup Sapto Yogo mulai berubah. Seorang guru olahraga di sekolah tersebut melihat sisi lain dari pemuda dengan CP tersebut, yaitu punya bakat di cabang olahraga atletik, khususnya nomor lari dan lompat. Sapto Yogo memiliki kecepatan dan kelincahan yang tidak biasa, bahkan tidak tersaingi oleh banyak murid normal di sekolah itu.

“Nama guru saya itu Ibu Winda Prasepti. Dia yang meyakinkan saya untuk terus latihan,” kata Sapto.

Itulah awal Sapto Yogo Purnomo menjelma menjadi salah satu atlet difabel terbaik di Asia Tenggara. Prestasi demi Prestasi Kiprah Sapto Yogo Purnomo di cabang olahraga atletik nasional bermula dari Pekan Paralimpik Pelajar Nasional (Peparpenas) VII di Bandung pada tahun 2015, atau pada saat dia masih kelas III SMK. Dia langsung menonjol dengan meraih dua medali emas.

Setahun kemudian, sinar Sapto makin cemerlang. Di Pekan Paralimpik Nasional XV/2016 Jawa Barat, bertanding membela Jawa Tengah, dia secara mengejutkan meraih medali emas di semua nomor yang diikutinya, yaitu lari 100 meter T38 (CP) putra, lari 200 meter T38 (CP) putra, lari estafet 4 x 100 meter T35-38 putra, lari estafet 4 x 400 meter T35-38 putra, dan lompat jauh T38 putra.

Gelontoran emas tersebut membuat Komite Paralimpiade Nasional (NPC) Indonesia meliriknya untuk mengikuti pemusatan latihan nasional (pelatnas) menuju ASEAN Para Games IX, Malaysia, pada tanggal 17-23 September 2017.

Sapto dianggap bakat penting di sektor cerebral palsy (CP) karena sebelumnya Indonesia tidak memiliki atlet lari dan lompat di kategori ini. Sapto dianggap bisa mendobrak dominasi Malaysia di sekotr tersebut.

"Indonesia sudah punya atlet pada tahun 2017. Kami harap dapat meraih emas melalui Sapto Yogo Purnomo," tutur pelatih tim atletik Indonesia Slamet Widodo sebelum ASEAN Para Games IX dimulai.

Sapto Yogo pun akhirnya turun di kompetisi pertamanya di luar negeri. Pada hari Senin, 18 September 2017, dia membuat sejarah. Mengaku gugup ketika pertama kali menjejakkan kakinya yang kaku di lintasan atletik Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur, Malaysia, Sapto sukses menjadi yang terbaik di nomor lari 100 meter T38 putra.

Bukan cuma itu, catatan waktunya 11,76 detik juga bisa memecahkan rekor ASEAN Para Games 12,01 detik yang dipegang atlet Malaysia Mohamad Puzi sejak 2015 di ASEAN Para Games Singapura.

Keesokan harinya, Sapto Yogo memperoleh medali perak di nomor lompat jauh T38 putra dengan torehan lompatan 5,46 meter.

Belum puas dengan satu emas dan satu perak, Sapto mendapatkan medali emas lagi pada pertandingan pada hari Rabu, 20 September 2017, dari nomor lari 200 meter T38 putra dengan catatan waktu 24,26 detik.

Total medali Sapto sebanyak dua emas dan satu perak dari ASEAN Para Games IX di Malaysia. Torehan itu terhitung sangat baik untuk atlet berumur 19 tahun yang masih hijau pengalaman internasional.

“Beruntunglah ada ajang seperti ASEAN Para Games ini, yang membuat kami para difabel bisa merasakan bagaimana bangganya membela nama bangsa dan negara,” kata Sapto ketika bersua di Stadion Bukit Jalil.

Di tengah perbincangan, dia tidak henti melayangkan ingatannya ke masa lalu. Masa dia diejek, dirundung, dan diremehkan hanya karena kondisi fisiknya berbeda dari orang kebanyakan.

Sapto mengungkapkan bahwa dirinya makin kuat menerima semua pandangan negatif terhadapnya ketika SMK ketika dia mulai berkecimpung di dunia atletik dan bisa meraih prestasi.

Pencapaian-pencapaian itu yang akhirnya membuat pandangan-pandangan picik yang hampir selalu menghiasi hari-harinya berangsur menghilang dan terbungkam. “Perubahan keadaan itu sangat drastis. Setelah menjadi atlet seperti ini, pandangan-pandangan mereka sangat berbeda, sudah berubah. Sudah tidak banyak kata-kata negatif seperti dahulu,” tutur Sapto.

Ia pun sangat bersyukur dengan semua yang dicapainya saat ini dan berterima kasih atas dukungan dari orang tua, guru, dan sahabat-sahabatnya.

Meski demikian, Sapto berjanji akan terus meningkatkan kemampuan demi tampil di Asian Para Games 2018 di Indonesia dan Paralimpiade 2020 di Jepang.

Memang, nama Sapto Yogo dan beberapa bintang muda Indonesia lain di atletik ASEAN Para Games IX diorbitkan tim pelatih untuk terus bertanding di kompetisi-kompetisi internasional.

Sebagai atlet, Sapto Yogo masih haus akan prestasi-prestasi. Namun, dia tetap tidak melupakan satu impiannya yang lain di luar lintasan atletik. "Saya mau kuliah," katanya sambil tersenyum. (ded/ded)
star Terpopuler