student-star
Student Star
STUDENT STAR Rabu, 05/04/2017 07:55 WIB

Ruly, Mahasiswi asal Indonesia di Sidang Perempuan PBB

Ruly, Mahasiswi asal Indonesia di Sidang Perempuan PBB Qomaruliati Setiawati, mahasiswi asal Indonesia yang mengikuti sidang Komisi Status Perempuan di PBB, 24 Maret 2017 (Dok. pribadi)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tahun ini, seorang mahasiswi asal Indonesia, Qomaruliati Setiawati, berkesempatan mengikuti sidang Komisi Status Perempuan di markas besar PBB di New York, pada 24 Maret lalu. Dia adalah perwakilan dari College of the Atlantic, kampus di negara bagian Maine, Amerika Serikat.

Ada 5 perwakilan dari College of the Atlantic, selain Qomaruliati yang akrab dipanggil Ruly. Mereka adalah Andrea Fontana dari Italia, Ana Maria Zabala Gomez dari Kolombia, Lea Latoja Seitter dari Jerman, dan Thule van den Dam dari Belanda. Ini kali pertama College of the Atlantic mengirimkan wakilnya ke sidang itu.  
 
Selama 10 hari mengikuti sidang ini, Ruly, begitu Qomaruliati Setiawati akrab dipanggil, mengatakan sangat senang sekali bisa menjadi perwakilan. “Ini kesempatan sangat langka dan sangat berharga buat saya, apalagi saya merupakan mahasiswa tahun pertama,” kata mahasiswi jurusan ekonomi ini.

“Mungkin karena saya aktif dalam setiap perkuliahan dan juga kegiatan di kampus, menjadikan salah satu pertimbangtan kampus mengirim saya ke sidang ini. Nantinya saya harus membuat laporan atas jalannya sidang Women UN itu ke kampus,” kata dia melanjutkan.

Ruly menempuh perjalanan darat selama sekitar 12 jam lebih dengan mobil bersama teman-temannya dari kampusnya di Maine. Mereka sempat mampir menginap di Philadelpia.

“Jadi, satu hari menjelang pembukaan, kami sudah sampai di New York, karena untuk mengurus pendaftaran dan mengurus ID sidang, jika pada saat pembukaan akan lama dan antre. Jadi kami sudah dapat ID pada sore hari nya, setelah itu kami bisa bersantai dan menikmati kota New York yang sangat ramai,” ujar dia.

Ruly mengatakan, mengikuti sidang PBB adalah pengalaman luar biasa baginya, sebab itu kali pertama dia bisa masuk ke gedung General Assembly Hall sebagai delegasi resmi. Padahal waktu di SMA 8 Jakarta, kata dia, dirinya cuma mendengar dan melihat temen-temannya yang ikut mendaftar sebagai anggota sidang simulasi sidang PBB di New York.

Ruly adalah alumni SMA Negeri 8 Jakarta. Dua tahun di SMA 8, dia melanjutkan studinya di tingkat menengah selama 2 tahun lagi di Kanada. Barulah kemudian kuliah di Maine sejak 2016.

“Tapi alhamdulillah, setelah kuliah di AS, sekarang beneran saya sebagai peserta atau delegasi. Kadang merasa tidak percaya bisa masuk sidang PBB sebagai peserta resmi. Saya bersyukur karena bisa belajar dan merasakan langsung bagaimana para pemimpin dunia dari berbagai negara bersidang membahas soal perempuan,” ujarnya.

Selama 10 hari, perempuan kelahiran 1997 ini tak menyia-nyiakan waktunya. Dia berkenalan dengan sejumlah delegasi dan pejabat Indonesia.  Dari perkenalan itu, Ruly akhirnya mendapat akses untuk mendalami tema yang dibahas dan bisa bertemu dengan delegasi Indonesia.

Delegasi itu, kata Ruly, senang sebab ada mahasiswi Indonesia yang kuliah di AS dan ikut dalam sidang ini. “Akses ini akan saya manfaatkan nanti ketika ada kewajiban magang baik di Indonesia maupun di markas PBB,” kata sosok yang pernah menerbitkan buku “Live in Strasbourg: Pengalaman Remaja Tinggal di Keluarga Prancis” pada April 2013 ini.

Selain itu, Ruly mengaku makin memahami permasalahan soal perempuan yang dihadapi negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia. Antara lain soal akses informasi, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan keluarga, dan masalah lain yang terkait dengan peran dan tugas perempuan. (ded/ded)
star Terpopuler