keluarga
Keluarga
KELUARGA Rabu, 21/02/2018 10:15 WIB

Menghadapi Post-Traumatic Stress Disorder pada Anak Remaja

Menghadapi Post-Traumatic Stress Disorder pada Anak Remaja Kampanye untuk menyetop kekerasan seksual pada anak dan perempuan. (Foto: CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kejahatan seksual kini semakin merajalela tidak hanya di kota-kota besar bahkan telah menjalar sampai ke pelosok daerah. Dampaknya dirasakan oleh korban. Seperti yang dirasakan Sasa (bukan nama sebenarnya), yang dihinggapi mimpi buruk dan ketakutan luar biasa.

Apa yang dialami Sasa itulah yang disebut dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada korban pelecehan seksual. Perbuatan jahat itu menyebabkan efek fisik dan psikologis pada korban terutama pada anak-anak dan remaja.

Bila trauma fisik disembuhkan, trauma psikologis masih tetap tertinggal. Korban membutuhkan perawatan psikologis untuk menyembuhkan Post Traumatic Stress Disorder dan untuk mengembalikan kehidupan mereka seperti sebelum momen traumatis terjadi.
 
Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) pada korban pelecehan seksual akan berupa sindrom kecemasan, labilitas autonomic, ketidakrentanan emosional, dan kilas balik dari pengalaman yang amat pedih itu, setelah stress fisik maupun emosi yang melampaui batas ketahanan orang biasa.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Sistim dan Kebijakan kesehatan mengutip National Institute of Mental Health (NIMH) yang mendefinisikan PTSD sebagai gangguan berupa kecemasan yang timbul setelah seseorang mengalami peristiwa yang mengancam keselamatan jiwa atau fisiknya.
 
Berkaca pada pengalaman Sasa, teman saya, yang mengalami pelecehan seksual semasa SMA. Saat itu dia berpacaran dengan seseorang selama 3 tahun, yang diwarnai romansa anak muda. Mereka berpacaran sembunyi-sembunyi dan Sasa kerap berbohong kepada orang tua supaya bisa bertemu kekasihnya.  

Saat berduaan, berbagai hal mereka lakukan. Dari sekadar berciuman, meraba, hingga akhirnya kebablasan. Fatalnya, mereka ketahuan orang tua Sasa saat melakukan hubungan terlarang. Pacarnya diusir dan Sasa mendapat hukuman berat, serta dijauhkan dari pergaulan.
 
Situasi itu membuat Sasa mengalami depresi dan beberapa kali hendak bunuh diri. Pengalaman itu telah memberikan penyesalan dalam diri Sasa. "Saya masih merasa malu dan berdosa kemana pun saya pergi, pesan saya, jangan melakukan seperti saya, nanti kamu menyesal sampai tua dan harga diri sangat penting bagi perempuan maupun laki-laki, siapapun," katanya.  

***

Catatan Tahunan Biro Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa penanganan masalah perlindungan anak di Indonesia masih jalan di tempat. Sementara itu, Komite Hak Anak PBB menyebutkan bahwa Indonesia masih mendapatkan rapor buruk dalam penanganan perlindungan anak.

Pada tahun 2014 jumlah penduduk Indonesia yang menjadi korban kriminalitas sebanyak 1,06 persen dan dari jumlah tersebut sebanyak 0,29% atau 247.610 adalah anak-anak. Dari 247.610 anak yang menjadi korban kejahatan, 80 persen diantaranya memiilih untuk tidak memproses kasus tersebut ke kepolisian.

Mengutip Catatan Tahunan Komnas Perempuan pada tahun 2016 ini, dari kasus kekerasan terhadap perempuan, kekerasan seksual berada diperingkat kedua, dengan jumlah kasus mencapai 2.399 kasus (72%), pencabulan mencapai 601 kasus (18% dan sementara pelecehan seksual mencapai 166 kasus (5%).

Dari pemeriksaan kasus oleh penegak hukum dan laporan masyarakat terhadap berbagai kasus kejahatan seksual yang terungkap, ditemukan pengakuan dan pembuktian bahwa pelaku adalah lingkungan terdekat korban, seperti teman, sahabat.  

Riko Jayasaputra, Special Klinis Anak RS Awal Bros Batam dan CSR Dept Manager PT. Tunaskarya Indoswasta, mengatakan  PTSD bisa melanda siapa saja, tidak hanya perempuan. Tapi respons pada korban berbeda tergantung pada faktor-faktor tertentu. Trauma pada korban bisa disembuhkan asal si korban mau melakukannya.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan, terkait masalah ini:
 
Pertama, sadar konsekuensi.
Kita harus sadar akan konsekuensi yang diambil dan sasaran konsekuensi itu adalah diri sendiri untuk seumur hidup. Lalu, konsekuensi–konsekuensi yang dialami oleh korban diterapkan sebagai pengalaman.  

Kedua, jangan kuatir meski orang tua pasti marah.
Tapi orang tua tidak mungkin membiarkan anaknya begitu saja. Marah adalah bentuk peduli dan kasih sayang orang tua terhadap anak.

Ketiga, pendidikan seks sejak dini.
Pendidikan seks harus diajarkan sejak balita. Caranya mudah, misalnya ketika ibu sedang memandikan anak atau ketika mengganti pakaian dan lainnya. Atau melalui karangan lagu sendiri misalnya lagu Balon ku ada 5 di ganti dengan “Bagian Tubuhku” atau “Don’t Touch My hands” atau lainnya. Cara ini ada baiknya dilakukan oleh ibu.

Keempat, batasi gadget pada anak.
Sebenarnya tidak dilarang memberi gadget pada anak, tetapi terkadang orang tua lalai dan kurang melindungi anak dari pengaruh gadget. Ada baiknya, kalau masih balita, berikanlah mainan kepada anak, bukan gadget.

Kelima, di bidang pendidikan atau di sekolah.
Sosialisasikanlah dampak buruk kekerasan seksual dengan menggunakan media, seperti memutar film, atau melakukan workshop mengenai pendidikan seks.

Peran Orang Tua dan Agama
Salah satu yang perlu diperhatikan dalam upaya mengantisipasi bahaya traumatik anak dan perempuan terhadap kriminalitas seksual adalah dimulai dari sejak dini dan dimulai dari lingkungan terdekat seperti Ayah dan Ibu yang  memberikan bimbingan mengenai pendidikan seks kepada anak sejak usia batita, balita, anak-anak, remaja, dan dewasa.

Mengapa penting sekali peran orang tua sejak dini? Sebab anak akan mengerti batasannya dan itu tertanam dalam pikirannya sejak kanak-kanak.
 
Agama dan kepercayaan juga akan menuntun hidup kita untuk meningkatkan moral, etika, dan akhlak. Pemahaman agama akan membuat kita tahu batasan moralitas, etika, dan arah tujuan hidup. (ded/ded)
star Terpopuler