keluarga
Keluarga
KELUARGA Rabu, 10/01/2018 14:24 WIB

Yuk Jadi Agen Informasi Difteri

Yuk Jadi Agen Informasi Difteri imunisasi difteri. (Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bagaimana mahasiswa sebagai salah satu pengguna ponsel pintar menanggapi wabah difteri? Menjelang berakhirnya tahun 2017, kata ‘difteri’ laris pada lintasan pemberitaan. Difteri bukan sekadar sebuah kata pada layar gawai maupun surat kabar, difteri melainkan sebuah wabah yang mampu membuat gaduh di tengah-tengah kehidupan bermasyarakat.

Melansir CNN Indonesia (12/12), dari data Kementerian Kesehatan sampai akhir November 2017 setidaknya ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Dari total 622 kasus yang ada, 32 di antaranya meninggal dunia.

Difteri merupakan penyakit atau infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir, hidung, dan tenggorokan. Seperti yang diberitakan media massa, difteri termasuk penyakit menular dan mampu menyebabkan kematian. Bahkan di beberapa tempat, difteri ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) atau setara sebuah bencana.

Akan tetapi, penyebaran wabah penyakit yang –menurut data yang disajikan media massa- sering menimpa anak dan remaja ini masih dapat kita cegah. Strategi paling sederhana yakni dengan memaksimalkan akses informasi yang tersedia pada gawai yang kita miliki.

Manfaat portal informasi
Portal informasi dalam jaringan (daring) menjadi garda terdepan soal pemberitaan penyakit difteri. Mulai dari laporan berita dari berbagai penjuru tempat (kota dan daerah), ulasan medis tentang resiko penyakit difteri, peran pemerintah, hingga yang paling penting yakni cara-cara untuk mendeteksi gejala difteri dan bagaimana penanganannya.

Mengutip pemaparan Nur Janti, dkk. dalam buku berjudul Online!, sejak kemunculan internet di era modern sekarang ini, kemunculan berbagai macam informasi tak bisa lagi dibendung. Dunia internet kini digunakan sebagai sarana bertukar informasi melalui berbagai macam media daring. Dunia internet yang menjunjung tinggi kebebasan berekspresi, memiliki peranan yang penting guna menyampaikan informasi secara masif kepada masyarakat.

Dengan hanya mengetik kata ‘difteri’ pada kolom mesin pencarian Google, puluhan bahkan ratusan artikel sudah tersedia di sana. Tumpukan artikel tersebut bisa kita jadikan rujukan sebagai bahan baku informasi.

Selain mudahnya mengakses informasi medis, secara otomatis juga mempengaruhi pola berfikir masyarakat untuk tetap melek kesehatan. Selain itu, informasi mengenai penyakit hingga terapi medis sudah sangat marak di pelbagai portal informasi yang bisa dijadikan referensi pengetahuan kesehatan masyarakat.

Manusia cerdas
Suatu keniscayaan jika muda-mudi (pelajar, mahasiswa) masa kini memiliki gawai. Khususnya yang bermukim di kawasan perkotaan (urban), gawai dengan sokongan kuota internet sudah menjadi kebutuhan pokok.

Kita, para muda-mudi bergawai bisa mengambil peran sebagai agen informasi. Jangan dulu jauh-jauh, cukup dimulai dari lingkungan sekitar tempat bermukim saat ini. Setidaknya, kita memberi rangsangan kepada tetangga agar tidak meremehkan imunisasi, dan peduli akan kebersihan lingkungan.

Meluangkan waktu sebentar saja untuk sekadar memberi tahu atau menginformasikan secara formal kepada tetangga yang (maaf) tidak begitu paham mengoperasikan sebuah gawai, tidak menyebabkan suatu kerugian. Kemampuan melakukan presentasi di muka kelas dapat kita terapkan bahkan diasah langsung di lapangan.

Arkian, lebih dulu memulai nampak lebih elegan ketimbang menunggu untuk diminta. Untuk zona tetangga sendiri, rasa sungkan bukan alasan bagi kita yang terbiasa mengekspresikan diri di panggung media sosial.

Dengan tindakan sederhana seperti ini, kita sudah berperan untuk menahan laju wabah penyakit difteri. Selain itu, kita bisa menampilkan diri sebagai manusia cerdas bermodalkan ponsel pintar.

Indra Kurniawan
Mahasiswa Program Studi Komunikasi FISIP Universitas Komputer Indonesia (ded/ded)
star Terpopuler