keluarga
Keluarga
KELUARGA Jumat, 22/12/2017 12:47 WIB

Hari Ibu, Pernikahan Dini, dan Pendidikan

Hari Ibu, Pernikahan Dini, dan Pendidikan Ilustrasi (Foto: yc0407206360/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Di Indonesia, 22 Desember menjadi hari yang spesial bagi banyak orang, terutama para ibu. Tanggal 22 Desember menjadi momentum di mana anak-anak mengungkapkan rasa sayang dan terima kasihnya pada Ibu mereka masing-masing.

Tanggal itu juga menjadi momentum di mana anak-anak mensyukuri dan menyadari perjuangan ibu mereka dari mulai mengandung sampai membesarkan anaknya. Di Indonesia, 22 Desember diperingati Sebagai Hari Ibu.

Hari ibu, bagi beberapa orang dianggap perlu untuk dirayakan. Hal ini dikarenakan jasa ibu yang telah membesarkan anak-anaknya dari kecil hingga dewasa yang tidak ada bandingannya. Ibu menjadi sosok pahlawan bagi anak-anaknya. Bagaimanapun, ibu mendapat satu tempat istimewa hingga akhirnya pantas mendapat perlakuan khusus, terutama saat peringatan Hari Ibu.

Di Indonesia, penentuan tanggal 22 Desember sebagai hari Ibu bukan tanpa sebab. Ada satu peristiwa sejarah yang akhirnya menjadi latar belakang penentuan tanggal tersebut. Peristiwa itu ialah Kongres Perempuan Indonesia pertama yang dilaksanakan pada 22-25 Desember 1928.

Kongres tersebut yang kemudian menjadi titik awal dari hari ibu. Pertanyaan yang muncul sekarang adalah, apakah perayaan Hari Ibu yang selama ini dilakukan sudah sesuai dengan bahasan dalam Kongres yang menjadi hulu perayaan Hari Ibu tersebut?

Hari Ibu pada hakekatnya diadakan untuk memperingati Kongres Perempuan yang bertempat di sebuah pendopo Dalem Jayadipuran milik Raden Tumenggung Joyodipoero. Kongres itu diselenggarakan oleh organisasi-organisasi perempuan dari berbagai macam etnis dan agama di Indonesia.

Sekitar 600 perempuan dari berbagai latar belakang pendidikan dan usia hadir dalam kongres. Wanita Utomo, Putri Indonesia, Wanita Katolik, Perempuan-perempuan Sarekat Islam, dan Perempuan-perempuan Jong Java adalah tokoh-tokoh di balik kongres ini. Tanggal 22 Desember, yang merupakan tanggal dimulainya kongres kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu berdasarkan Dekrit Presiden RI No. 316 Tahun 1953 (Sumber: Infografik tirto.id)

Dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama itu, berbagai pidato dengan beragam tema disampaikan di hadapan 600 peserta yang hadir. Tiap-tiap perwakilan atau utusan diberi kesempatan untuk mengurai permasalahan perkumpulannya.

Berbagai bahasan pun muncul dalam kongres ini. Perkawinan menjadi topik yang cukup sering dibahas, baik perkawinan anak maupun perkawinan dan perceraian. Topik lainnya ialah derajat dan harga diri perempuan, adab perempuan, serta pendidikan perempuan.

Perkawinan Dini
Setiap hari, lebih dari 41.000 perempuan menikah di bawah usia 18 tahun. Perkawinan anak di Indonesia, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berada di peringkat ke tujuh di dunia untuk kategori angka absolut perkawinan usia anak tertinggi yang menanggung beban perkawinan usia anak. Indonesia menjadi salah satu yang tertinggi di Asia Timur dan Pasifik untuk angka perkawinan usia anak (Kompas.id).

Dalam analisis data perkawinan usia dini yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2016, angka perkawinan usia anak tertinggi terjadi pada perempuan berusia 16 dan 17 tahun. Analisis menyatakan, satu dari empat anak perempuan menikah sebelum 18 tahun.

Data yang menganalisis perkawinan usia anak dari tahun 2008 hingga 2015 itu menyebut tak terdapat perubahan signifikan terhadap angka perkawinan anak. Sejak tahun 2008, angka perkawinan usia anak relatif tetap stabil sekitar 25 persen.

Sementara Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (2010), mereka yang menikah pertama kali pada usia 15-19 tahun mencapai 46,7 persen. Data ini konsisten dengan hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012, yaitu angka kelahiran pada usia remaja 15-19 tahun adalah 48 per 1.000 kelahiran. Keadaan itu membuat Indonesia menjadi negara tertinggi kedua di ASEAN setelah Kamboja dalam jumlah pernikahan dini (Kompas.id).

Pernikahan menuntut kesiapan biologis dan psikologis agar berhasil dan menghasilkan keturunan berkualitas. Banyak bukti memperlihatkan, kehamilan pada usia dini berisiko terjadinya perdarahan, salah satu risiko penyebab kematian ibu melahirkan. Kehamilan pada usia dini juga berisiko berat lahir rendah pada bayi yang dilahirkan yang dapat berujung kematian atau pertumbuhan kemudian kurang optimal.

Secara psikologis, usia remaja adalah usia tumbuh dan kembang. Mengasuh anak adalah tanggung jawab berat yang memerlukan kedewasaan ibu sebagai orang terdekat dengan anaknya yang baru lahir. Pada akhirnya, ibu-ibu muda ini kenyataannya belum siap untuk menjadi seorang ibu.

Pendidikan
Dalam kongres perempuan pertama Indonesia, Djami dari Darmo Laksmi mengatakan “Tak seorang akan termasyhur kepandaian dan pengetahuannya yang ibunya atau perempuannya bukan seorang perempuan yang tinggi juga pengetahuan dan budinya. Jika perempuan sudah bodoh, pendidikan terhadap anak yang dikandung dan dibesarkannya sebetulnya terancam. Selama anak ada terkandung oleh ibunya, itulah waktu yang seberat-beratnya, karena itulah pendidikan Ibu yang mula-mula sekali kepada anaknya.”

Dari pernyataan yang disampaikan Djami dalam pidatonya yang berjudul “Iboe”, terungkap betapa pentingnya pendidikan perempuan. Menjadi seorang ibu bukan berarti seorang perempuan tak perlu mengenyam pendidikan tinggi. Menjadi seorang ibu justru menuntut perempuan untuk memiliki pendidikan yang baik untuk membesarkan anaknya kelak. Menjadi seorang ibu seharusnya bukan penghalang pendidikan bagi perempuan tapi justru tuntutan pendidikan yang tinggi.

Pada peringatan Hari Ibu saat ini, jika dibandingkan dengan permasalahan yang ada dan apa yang dibahas dalam kongres perempuan pertama Indonesia, rasanya masih banyak persoalan yang belum selesai. Diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan tak akan berarti apa-apa pada tidak menjadikan Hari Ibu sebagai satu momentum yang bermakna.

Hari ibu patutnya menjadi momentum di mana kita semua melakukan pembenahan atas permasalahan yang ada. Hari Ibu yang kita rayakan untuk menghargi jasa ibu seharusnya kita rayakan dengan memberikan hak-hak para Ibu yang tanpa sadar telah “terampas” akibat pernikahan dini dan tuntutan dari perkawinannya. Hari Ibu layaknya menjadi momentum perbaikan dan peningkatan kualitas cara asuh dan pendidikan semua Ibu di Indonesia.

Selamat Hari Ibu! (ded/ded)
Ikuti perkembangan berita ini dalam topik: Bunda, Kasihmu Tiada Tara
star Terpopuler
Artikel Terkait