keluarga
Keluarga
KELUARGA Rabu, 03/08/2016 13:53 WIB

Membedakan Mainan Menurut Jenis Kelamin Anak, Perlukah?

Membedakan Mainan Menurut Jenis Kelamin Anak, Perlukah? Ilustrasi mainan anak. (manugv71/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah beberapa pertanyaan sederhana ini muncul di benak kita? Haruskah mainan anak disesuaikan dengan jenis kelaminnya? Bagaimana kalau anak lelaki Anda lebih suka bermain boneka daripada mobil-mobilan, atau sebaliknya?

Menurut penelitian, kesadaran anak pada jenis kelaminnya sudah muncul sejak dini. Ketika kesadaran ini muncul, secara alami mereka akan lebih banyak bermain dengan yang berjenis kelamin sama.

Kecenderungan ini juga akan berpengaruh pada pilihan mainan mereka. Saat mereka berusia sekitar dua tahun, kecenderungan mereka pada permainan akan terlihat. Anak-anak lelaki akan lebih banyak memainkan balok susun, mobil-mobilan, senjata, dan sebagainya. Sedang anak perempuan akan lebih banyak memainkan boneka, perlengkapan binatang, seni, dan sebagainya.

Tapi benarkah mainan anak-anak perlu disesuaikan dengan jenis kelaminnya? Kisah Toy Kingdom di Departemen Store Harrods di Inggris, barangkali bisa jadi inspirasi. Saat dibuka di Inggris, pada 2012, toko ini memilih untuk tak melakukan pemisahan mainan anak cowok dan cewek. Boneka dan truk diletakkan bersebelahan.

Hal ini menarik perhatian Carrie Goldman, seorang ibu tiga anak dari suburban Chicago, seperti dikutip CNN. Menurutnya, hal itu telah mematahkan pemisahan gender pada mainan anak-anak. Dia bilang, pemisahan gender dapat melukai hati anak dan membuat mereka berpikir harus berubah jika ingin diterima oleh teman-temannya. Dan itu dialami putrinya sendiri.

Pada 2010, putri si Goldman yang berusia 7 tahun saat itu, tiba-tiba pulang sambil berderai air mata. Dia sedih karena di-bully oleh teman-temannya setelah dia membawa termos bergambar Star Wars. Teman-temannya bilang Star Wars hanya untuk anak lelaki.

Deborah Tolman dari Hunter College School of Social Work di New York mengatakan pemisahan semacam itu akan mematikan kreativitas anak. Anak-anak punya banyak ide melalui permainan yang dimainkan. “Dengan melakukan pemisahan gender, itu hanya akan membatasi kreativitas mereka,” katanya. (ded/ded)
star Terpopuler