inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Jumat, 23/02/2018 20:34 WIB

CERPEN: Penumbra

CERPEN: Penumbra Foto: CNN Indonesia/Hesti Rika
Jakarta, CNN Indonesia -- Niskala membentuk kalibrasi acak pada nirmana langit bagai membentuk bola-bola nirwana tembus pandang. Cuaca sepertinya antara bersahabat dan tidak. Matahari ada namun seperti tidak ada. Lantas bagaimana ruang mampu membentuk objektivitas diri. Jika cahaya ada tiada. Hanya seakan tampak temaram. Alam seperti malas berfikir, enggan berdialog memberi tanda-tanda.

Seperti kutuk hipnosis melodrama siang bolong. Menulis kisah kitab-kitab amaran suci dari hati tak jadi plagiat pemalsu pencuri ide dari makhluk asing lain. Sebab makhluk penghuni planet-planet semesta bukan berhala hidup dibentuk dari peniruan penciptaan misteri masgul seakan eksklusif. Lalu pada waktu kemudian ternyata khianat disebarkan kroni Lucifer.

Sejak lama taman surgawi seakan mirip Taman Eden telah menjadi kisah lagenda terjadi saat anasir diri konon mencoba untuk keluar dari skema waktu ketentuan. Akibat ulah sekelompok kroni Lucifer mengembangkan hipokrisi kasak-kusuk dalam kabut tenung. Misteri perseteruan adidaya planet Saturnus dan Venus mendadak berubah rupa menjadi Medusa Venus.

Hermafrodit semacam makhluk tumbuhan dari genus tak bertuan asal usul habitat sel mampu memecah diri bahkan menjadi bentuk serupa tapi tak sama. Memenuhi Taman Eden mengubah cuaca menjadi merah darah bagai peperangan Kurusetra seakan-akan baru saja usai. Meski Parikesit tak mampu bertumbuh sebab matahari tak jelas benar sebagaimana mestinya.

Immortal aseksual melahirkan makhluk aneh terus mengembangkan diri dalam bentuk kejahatan amoral dalam liku-liku kisah-kisah peradaban lampau hingga kini. Kelompok kroni Lucifer hanya merubah bentuk seakan makhluk sempurna mirip manusia. Meski sesungguhnya tidak. Ruh di badan mereka semacam unsur hidrogen organik inter-molekuler telah mengkristal.

Bagaimana mungkin mampu menggempur kejahatan makhluk itu. Mengapa alam melahirkan manusia berhala macam itu. Satu-satunya cara menggiring mereka ke wilayah super dingin. Planet Saturnus telah dikuasai Lucifer. Bahkan planet cantik Venus telah berubah rupa menjadi Ratu Medusa, tak lagi mampu memberi jalan keluar.

Konon Saturnus itulah biang kerok dari pertumbuhan para ruh jahat kroni Lucifer. Ketika Venus berkhianat pada purnama penuh awal musim peradaban esetoris. Tenung bagai kutuk alam raya pada planet Bulan, meski seharusnya tidak. Akibat para makhluk kroni Lucifer ngumpet di episentrum Bulan, akan berkhianat melibas punggung Bumi dari beberapa planet asing tak bernama, telah tercipta kekuatan super ledakan atomik mengarah membidik Bumi.

Meskipun sesungguhnya perang Baratayuda telah digagalkan Semar sebagai salah satu Dewa disegani di kawasan langit Taman Kebijaksanaan. Bahkan Kresna berjanji akan menjaga Bumi dari serangan musuh dalam bentuk apapun oleh kroni Lucifer. Semar telah memanggil seluruh kisanak satria Negara Pandawa, memberi tahu bahwa perang Baratayuda harus batal, jika planet Bumi ingin tetap utuh.

Sengkuni mundur menyusun kekuatan baru bersama Betara Dorna. Mereka telah berhasil mencuri pusaka Kembang Wijaya Kusuma sebagai kekuatan langit. Itu sebabnya Kresna marah besar. Hilangnya pusaka langit Kembang Wijaya Kusuma, hal itu sama dengan mencuri kekuatan tahta seluruh Dewa Langit. Kresna telah siap menghunus pusaka panah Cakra Semesta, langsung tertuju pada planet Saturnus.

Tembang megatruh suluk langit berkumandang. Seluruh makhluk penghuni planet Bumi bangkit bersatu dengan kekuatan penuh di pimpin para satria Negara Pandawa, siap menggempur planet Saturnus, bersamaan dengan lepasnya panah Cakra Semesta milik Kresna dari busurnya. Tinggal menunggu perintah Semar, setelah usai tafakur di padepokan Karang Tumaritis. Bimasena telah siap di lautan.

Gatotkaca telah siaga di angkasa, memecah diri secara matematis menjadi jutaan wujud Gatotkaca. Antareja siap menjaga episentrum Bumi dari penyusupan pihak lawan. Arjuna telah semedi di puncak gunung Himalaya, membaca mantra-mantra anti Lucifer dan kroninya. Panakawan anak-anak Semar tengah menjaga Ayahandanya tafakur memanjatkan doa pada Sang Hyang Tunggal.

Pada waktu tepat Bumi satu garis di antara planet Bulan dan Matahari. Bayang-bayang semar terus membesar dan semakin besar menguasai Jagat Raya.

"Petruk! Siapkan rudal antar planet untuk melindungi Ayahanda Semar dari kemungkinan serangan apapun." Perintah Gareng.

"Siap!" Suara Petruk.

"Aku juga siap Reng! Tinggal pencet satu tombol musnah planet itu." Suara Bagong.

"Tunggu Ayahanda kentut. Langsung tekan tombol. Seluruh Satria segera maju perang membasmi musuh kita." Suara Gareng lantang.

"Loh! Gimana sih Reng. Kalau Ayahanda kentut tak perlu rudal lagi. Kentut beliau akan mengguncang seluruh planet di Jagat Raya!" Suara Bagong, mengingatkan.

"Hehehe. Cuma ngetes kamu. Kecerdasan mu jongkok atau tidak. Hehehe. Ternyata lumayan cerdas."

Awan menggumpal bergulung lalu memerah bagai api menyala terang. Muncul sosok Lucifer dan Ratu Medusa. Lantas bersujud pada Uwak Semar memohon ampunan.

"Bawa ke hadapan ku dua durjana pengkhianat negara. Sengkuni dan Dorna! Kembalikan Pusaka Kembang Wijaya Kusuma!" Suara Semar menggelegar mengguncang jagat dewa batara. Disaksikan seluruh kesatria Negara Pandawa.

Bimasena geram, laut bergolak, melihat kemunculan Lucifer dan Ratu Medusa. Gatotkaca siap dengan ajian 'otot kawat balung wesi' dan Antareja siap tempur menggempur dengan ilmu sakti Menyelam Bumi. Arjuna telah membidik seribu anak panah. Kresna siap meledakan tubuh Lucifer dan Medusa sekaligus dengan pusaka panah Cakra Semesta.

Dengan serta merta dua sosok durjana pengkhianat negara Sengkuni dan Dorna diserahkan kepada Uwak Semar oleh Lucifer dan Medusa. Sengkuni dan Dorna, langsung sirna jadi abu oleh kutuk dirinya sendiri.

Lucifer dan Medusa undur diri mohon ampunan dari Uwak Semar dan memohon maaf pada seluruh penghuni planet Bumi. Langit kembali cerah dalam suluk cinta humanis. (ded/ded)
star Terpopuler
Artikel Terkait