inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Selasa, 12/09/2017 18:29 WIB

Andai Terjadi 'Kiamat' Internet

Andai Terjadi 'Kiamat' Internet Ilustrasi (Foto: dhester/morgueFile)
Yogyakarta, CNN Indonesia -- Internet sudah menjadi kebutuhan perimer manusia akhir-akhir ini, bukan hanya sebagai alat komunikasi dan hiburan tetapi bisa berfungsi sebagai sarana penunjang pendidikan.

Di sebuah warung kopi di kota Yogyakarta, beberapa mahasiswa mengobrol malam itu. Topik tak jauh dari soal kuliah, kos dan kampus. Juga tentang pacar, uang kiriman dan persoalan remeh-temeh lainnya. Tiba-tiba, salah seorang melempar tanya, “Apa yang ada di benak kalian katika dunia tak ada Internet?”

Suasana berubah, ada yang tertawa, ada yang terdiam. Tetapi ada juga yang mengernyitkan dahi sambil membayangkan situasi yang terjadi ketika pertanyaan itu benar-benar berubah jadi kenyataan. Akankah kehidupan mejadi kacau? Bagaimana pula dengan peradaban modern yang sudah diyakini oleh jutaan orang sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik?

"Menurutku, semua kacau. Tak hanya kampus, tetapi juga seluruh sektor kehidupan. Misalnya, internet sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kita. Bahkan mungkin kita kan mengalami “kiamat” komunikasi,” ujar Galih, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Negara “AAN” YogyakarTa.

Ia beralasan, internet telah menjadi tempat bergantung manusia. Bukan hanya menyangkut komunikasi dan informasi, melainkan persoalan ekonomi, politik, sosial dan bahkan budaya.

Pendapat Galih diamini yang lain. Meskipun begitu masih ada yang justru berpikir, lebih baik dunia tanpa internet. Menurutnya, ketiadaan internet justru mampu memberi tantangan baru pada manusia. Yang lebih penting adalah munculnya kesadaran manusia sebagai mahluk sosial yang harus berinteraksi secara langsung dengan manusia lainnya. Bagaimanapun, internet bukan semata-mata mempermudah komunikasi melainkan juga telah melahirkan budaya ketergantungan.

“Setuju!” sambung Julyani, mahasiswa Universitas Sanata Dharma. Menurutnya manusia masa kini, khususnya mahasiswa, tak sedikit yang justru menganggap internet sebagai sarana bermain. “Termasuk menjadikan mahasiswa malas membaca buku. Lebih celaka lagi kalau internet digunakan secara keliru. Tak hanya untuk menjeng, curhat, dan kegiatan remeh temeh, tetapi juga untuk melakukan tindakan kriminal,” ujarnya.

Budayawan Tufik Ismail pernah berkata, sejarah peradaban manusia membuktikan bahwa bangsa yang hebat adalah bangsa yang miliki minat baca tinggi. Definisi itu memang masih bisa diperdebatkan karena tidak berlaku universal. “Ambil contoh saja, apakah seorang petani harus mempunyai minat baca tinggi? Demikian juga nelayan?” tanya peserta ngobrol yang lain. Ia berpendapat, dunia buku dan dunia maya tak jauh beda. Semua tinggal bagaimana memilih dan memilahnya.

“Ya, tapi bagaimana dengan pertanyaan soal ketiadaan internet?” sanggah yang lain. Bagaimana pun, jika internet mengalami kiamat, denyut kehidupan tetap saja akan berhenti untuk beberapa waktu. Bahkan, ada kecenderungan orang hanya akan menunggu para ahli memperbaiki dan menghidupkan kembali akses internet. "Justru itu yang harus dikritisi. Kita tidak boleh lagi menggunakan budaya menunggu sebagai satu-satunya sikap. Dalam situasi apapun, kita harus bergerak karena kita dianugerahi akal sehat dan kecerdasan untuk mencari solusi dalam setiap masalah,” jelasnya.

Dengan kata lain, meski internet telah menciptakan ketergantungan, bahkan dianggap mampu menghentikan denyut kehidupan, manusia tidak boleh menyerah begitu saja. Justru pada titik inilah kesiapan mahasiswa sebagai calon pemimpin diperlukan. Mereka harus berani menjadi pelopor kemandirian. Tak hanya kemandirian pangan, politik, sosial dan kebudayaan. (ded/ded)
star Terpopuler