inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Jumat, 14/07/2017 16:07 WIB

Bumi Kita Sedang Sekarat

Bumi Kita Sedang Sekarat Kebakaran hutan (Foto: Michael Nekrasov/Handout via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Masih ingatkah kamu akan bencana kabut asap di Riau, tahun 2016 silam? Bencana tersebut disebabkan oleh banyaknya titik panas (hotspot) yang tersebar di bebagai daerah sehingga memicu terjadinya kebakaran hutan. Akibatnya, asap yang ditimbulkan oleh kebakaran tersebut menyelimuti seluruh kota dan menghambat berbagai aktivitas. Hal itu tentunya berdampak buruk bagi kesehatan masyarakat yang tinggal di sana serta menyebabkan kekacauan pada berbagai aspek.

Keprihatinan ini menjadi salah satu dari sekian banyak bukti konkret bahwa Bumi kita sedang sekarat. Polusi tanah, air, udara, semuanya kini sudah menjadi bagian dari hidup kita. Mereka ditemukan di mana-mana. Namun, karena hal itu telah menjadi sebuah kebiasaan, banyak orang yang menganggap bahwa hal tersebut lumrah. Mereka menunjukkan ketidakpedulian mereka akan lingkungan sekitarnya, karena merasa bahwa hal tersebut sudah biasa dan sudah seperti menjadi tradisi dalam kehidupan masyarakat

Kita meminta materi, dan alam memberinya secara cuma-cuma. Kita memanfaatkan alam demi membantu kelangsungan hidup kita, dan alam mendukungnya. Namun seiring berjalannya waktu, manusia menginginkan seusatu yang lebih. Lebih banyak, lebih banyak, dan lebih banyak sampai-sampai mereka ditelan oleh ketamakan mereka sendiri, terutama di era di mana kapitalisme sudah menjadi sebuah tren sekarang ini. Orang-orang berlomba untuk menghasilkan yang terbaik, yang bernilai jual tinggi, dan mereka melakukan segala cara untuk mencapai keinginannya, termasuk membombardir sumber daya alam semau mereka.

Coba bayangkan saat manusia tidak perlu membeli mantel mahal di musim dingin karena suhu udara semakin hangat, anak-anak bisa berenang gratis saat banjir karena tidak ada lagi tanah dan pohon untuk menyerap air hujan, orang-orang tak perlu lagi takut akan hiu di laut karena sudah terbunuh oleh minyak dan sampah. Menyenangkan bukan?

Ya. Banyak orang yang semakin buta akan lingkungan di sekitarnya. Mereka terlalu terobsesi pada kegiatannya masing-masing sampai lupa bahwa Bumi kita juga butuh perhatian. Bumi kita butuh kasih sayang, dan sebagai manusia yang menempatinya, kita harus bertanggung jawab untuk memberikan perhatian yang layak pada Bumi kita, karena ia telah menyediakan kita semua yang kita butuhkan.

Banyak sekali hal kecil berdampak besar yang bisa kita lakukan. Dari sekolah dasar kita sudah diajarkan bagaimana merawat Bumi kita. Namun hanya tindakan nyatalah yang mampu memberikan dampak, bukan hanya sekadar pengetahuan belaka tanpa manifestasi. Kita melangkah menuju masa depan dan kitalah yang membangun masa depan. Jika kita masih mau mempertahankan spesies kita, jika kita masih mau anak cucu merasakan indahnya Bumi yang mereka pijak, maka sudah saatnya kita berhenti mengulur waktu dan berpangku tangan.

Mungkin kamu berpikir: "Untuk apa saya peduli, tapi orang lain tidak ada yang peduli? Kalau hanya saya yang berbuat, tidak akan ada pengaruhnya."

Jangan pernah kamu merasa atau berpikir demikian karena segala hal berawal dari niat dan kemauan diri sendiri. Jika semua orang berpikir demikian, maka tidak akan pernah ada orang yang mau peduli. Ingatlah bahwa kontribusimu sangat dihargai Bumi dan hal kecil yang kamu lakukan bisa berdampak sangat besar di kemudian hari. Bukalah matamu dan pahamilah betapa Bumi memerlukan bantuan kita. Bumi mencintai kita dan sudah selayaknya kita membalas cintanya

Dahulu saya melihat anak rusa berlari bercanda bersama kawanannya, sekarang berlari merintih karena dikejar si jago merah. Dahulu saya melihat pohon hijau berdansa di pinggir jalan, sekarang monster beton dan besi yang menunggu saya terlelap dalam ulah saya sendiri sebagai manusia. Sekaranglah kita harus memulainya. Bertindak, berbuat, berkreasi demi dunia kita, tempat tinggal kita, Bumi kita tercinta. (ded/ded)
star Terpopuler