inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Minggu, 16/07/2017 10:22 WIB

Cerpen: Angan-Angan Embun

Cerpen: Angan-Angan Embun Ilustrasi (Foto: Unsplash/Sander Smeekes)
Jakarta, CNN Indonesia -- Terasa menyergap, angan melayang ingin memeluk sukma terbalut. Gaun kuning muda ada ungu semu kemerahan di antara lipstick bibirmu. Ingin aku melukis segala cita rasa ranum itu. Apa itu kau, dia sebenarnya. Kau masih di Polandia kabarnya.

“Milasika Maharani. Ya, itu namaku. Kenapa.” Ketika desir cahaya mata itu terperangkap, segala tentang aku, tekad, beku membulat. Namamu, semerbak bunga kecil kemuning, tanaman mewangi di sudut halaman rumah Bundaku.

Sejak surat terakhir dari Warsawa, tak ada lagi kabarmu. Belum tamat. Tak bisa satu kata pun keluar dari rasa sesal. Pertemuan tak bisa terpenuhi. Kesalahan tak termaafkan. Aku si pandir, si sombong sok gengsi. Padahal ingin mencapai pertemuan itu. Ketika, saat itu.

Namun, daya tak sampai ke tujuan sebab akan menggelar pameran dalam ranah waktu ketat. Juga akhir dari penyelesaian buku antologi sajak-sajak ku. Keduanya penting. Itu sebabnya barangkali tak aku temukan keberanian jawaban. “Ya. Aku akan hadir sahabat.”

Kenapa ketika itu. “Ugh! Kesal sendiri aku.” Tak melangkah saja. Pergi begitu saja berlari padamu memenuhi pertemuan itu. Langsung berlari menemuimu. Pengecut menghadang di berbagai pertimbangan antara. “Memang. Aku si pandir tak berbudi. Hih!”

Sesal jadi waktu tanpa jawaban, bahkan tak pernah lagi, akan menemukan desir matamu, meski di surat sekalipun. “Sekali lagi saja, please.” Untuk datang ke tempat perjanjian itu. Kali ini. Jika iya. Jika surat itu datang lagi. “Ya! Aku bisa. Segeralah datang.” Itu jawabku pada suratmu ini.

Kenapa. Sepertinya aku masih hidup tapi mungkin sesungguhnya tidak. “Hih. Kutu! Pengecut!” Ingin jumpa itu masih meradang di antara dada dan ruang hati. Sukma barangkali atau nurani barangkali atau ruh barangkali. “Hih! Sebel.” Dengan diri ini.

Lalu kemana kamu, tak pernah lagi berkabar. Sedikit pun belum melihat mu. Sekadar kabarmu saja. Girang jika benar ada. Kamu berbudi atau berakal. Secara bentuk belum sedikitpun pernah berhadapan atau semacam visual senada warna atau multicolor sih kamu.

Sejak beberapa waktu suratmu. Terbayang olehku, kulit kuning muda cerah di ruang pagi jam enam delapan belas menit, terpaan cahaya matahari membias agak sedikit merah itu tak cantik, namun ayumu terasa santun, smart, tegas, juga asik barangkali.

Ngobrol menikmati kolak buah di jam kemudian. Memandangi tersipu di senyum itu. Kesabaran seakan terperangkap semesta. Ayumu menguap harum. Ada rasa dialogis adaptasi kagumku, di rentang angan di kisah-kisah. Di hari-hari si pandir ini. “Aku bego.”

Seumpama, benar aku berani menemuimu. Aku panggil saja kamu, hmmh…”Ayu.” Akan terasa angan-angan itu. “Iya. Panggil saja aku seperti itu meski itu bukan namaku.” Itu suaramu, persis seperti terbayang, senantiasa membayang, di sela-sela kisah nun jauh di sana, di surat-suratmu.

“Ahai! Amboi!” Halusinasi. Tak terlukiskan oleh tinta emas atau cat minyak termahal di kanvasku. Suara itu. Indah. Seperti mengunyah bubble gum, renyah embun menggelayut di ujung-ujung dedaunan, di dalam beningnya, kamu di situ. Bergaun kelaziman rumpun melayu.

Memantul di sana wajahku si pandir nan jelek, di sisi wajahmu, Adinda Ayu. “Alamak!” Aku sambil melompat kegirangan, berlarian kian kemari mengejar kupu-kupu pagi di ufuk angan melayang-layang. Terbang di antara kupu-kupu biru muda kehijauan.

Di antara kupu-kupu warna jingga sedikit putih kekuningan di sudut sayapnya. “Di kupu-kupu itu ada warna kesukaan aku.” Seakan katamu.

“Iya. Aku tahu.” Akan aku tangkap kupu itu untuk mu adinda Ayuku. “Alah terbang lagi.”

“Jangan! Biarkan dia bebas.” Seakan suara ayumu menegaskan kelembutanmu.

“Alamak! Matilah aku.” Aku khawatir melihatmu melompati pohon perdu.

“Bisakah menolongku. Aku ingin naik ke batu besar itu.” Ahai! Dia bersuara lagi.

Akhirnya datang juga. Jauh dari benua itu. Terasa ada jiwa di tubuhku dari suaramu. Ada persahabatan terdekat dan mendekap. Terasa, berlarian bebas bersamamu. “Iyau!” Di benakku.

“Benar? Sungguh? Kau baik-baik saja. Bahagia harapanku untukmu.” Itukah suaramu nun jauh di sana. Kau hadir sayang, di sini, sekarang, melihatku di antara kupu-kupu untukmu.

Kau melihatku terbang untukmu. Kau khawatir. Baiklah, aku segera turun. Nah! Nona Ayu, dengan busana merah jingga, bersulam tradisi ada ungu marun muda di selendangmu.

Aku mendarat persis, tepat di depanmu. Kita sudah berhadapan. Melihat ayumu tak sampai oleh harapan. Kini, lebih jelas dari waktu lalu. Telah tertulis sejarah itu. Meski tak juga berani menatap kesalahanku membayang pada rona ayumu.

Di sekujur tubuh sedangmu agak mungil, tampak tipis saja pewarna bibir transparan, terlukis senyuman ekspresi anggun. Menunduk aku. Sungguh jelek kesalahanku. Tak ada daya sedikitpun berani melihat bola matamu.

Kau genggam kumpulan surat-surat dengan sinar ayumu. Kegembiraan seakan menghalau, kepengecutanku. Lengkap sudah. Aku jadi sambal terasi tanpa tomat. “Hura!” Kau terbangkan surat-surat sembari melompat kegirangan bagai kupu-kupu beterbangan estetis.

“Aku nyebelin!” Aku tetap tak berani menatap janjiku di matamu, meski aku terkesima sejenak. Ini bukan mimpi. Benar. Kau sedang melompat-lompat meniup surat-surat ke udara agar meninggi dan makin meninggi. Burung-burung membawa pergi bersama angin pengembaraan.

Kau terus terbang. Semakin tinggi dan terus meninggi. Aku mengejarmu, khawatir sesuatu terjadi padamu sahabatku. Budimu baik seperti hadirmu sekali itu. Meski tidak mencapai pertemuan.

Aku memang si pandir. Kau tak terkejar, terus meninggi menaiki awan-awan. “Ayo! Kejar aku!” Suara ayumu. Kau semakin jauh. Tapi aku yakin akan sampai pada waktu. Akan berani kelak. Tepat. Datang, dengan payung fantasi. Sekali lompatan, menaiki badai akan tiba di awan-awanmu.

Jakarta, Indonesia, April 16, 2017. (ded/ded)
star Terpopuler