inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Kamis, 13/07/2017 18:11 WIB

Lebih Dekat dengan Dunia Stand Up Comedy

Lebih Dekat dengan Dunia Stand Up Comedy Ilustrasi (Foto: connie58/Pixabay)
Malang, CNN Indonesia -- Mendengar dari perbincangan semalam, tentang bagaimana orang bisa melepas tawanya setelah mendengarkan kisah sedih sang teman. Ya! Anehnya mereka lebih tertarik dalam hal menertawakan kesedihan. Seperti halnya perceraian, ditinggal meninggal oleh orang tua, diputusin pacar karena nikah duluan dan lain sebagainya.

Bagaimana mungkin kesedihan menjadi bahan yang paling menarik bagi kalangan komika, atau karena memang komika yang satu ini, menelaah mentah-mentah kehidupanya? “Sebab, menertawakan kesedihan bukanlah hal yang mudah dan di stand up comedy, kamu bisa melakukan itu,” ujar Firda, salah satu komika asal Malang.

“Bahkan enggak sendirian, tapi bersama-sama. Semacam ajaran untuk berdamai dengan hal-hal buruk dan nggak berprinsip bahwa hidup harus selalu bahagia mungkin ya?” lanjut wanita tersebut.

Empat tahun sudah Firda bergabung dalam komunitas SUC (Stand Up Comedy) Malang. Dia menjadi satu dari sedikit komika cewek. Di komunitasnya, dia juga termasuk yang paling muda.

Melihat perkembangan akhir ini, stand up comedy memang bukan lagi pelawak eceran. Tapi mahasiswi ini sudah mengalami banyak. Mulai dari zaman dibayar hanya dengan ucapan terima kasih atau nasi kotak, sampai dibayar jutaan rupiah dalam sekali tampil, ia pernah merasakan itu.

Karena memang stand up comedy masih dianggap sebagai hiburan yang semua orang bisa. Padahal, stand up comedy adalah ilmu menulis. Ilmu yang tidak bisa didapat dari guyonan tongkrongan.

Terlebih lagi stand up comedy di era sekarang menjadi tambal nafkah untuk para komika. Sampai pada akhirnya banyak perfilman Indonesia berbumbu stand up comedian. Bahkan lulusan dari kontes komedi di televisi, bisa langsung terjun menjadi sutradara, maupun pemainnya.

Sebagai contoh Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan Kemal Pahlevi. Mereka aktor yang sudah menjajaki dunia perkomedian.

Sebelum mereka terjun di perfilman, sebelumnya mereka mengasah jemarinya menulis sajak lelucon, membuat perut kering-kerontang karena tekanan tawa.

Mereka memulai hal tersebut dari seorang penulis, yang menyulap tulisan menjadi lelucon. Bermodal pandai melucu dalam tongkrongan dan warung kopi kemudian menjadi besar di panggung.

Seorang komika adalah seorang jurnalis. Ya, dari segi inilah perbedaan lelucon dari seorang komika dengan komedian lain.

Jelasnya stand up comedy bukanlah hal yang gampang, menjadi seorang komedian sekaligus wartawan. Firda sendiri mengalaminya selama 4 tahun ia bergabung. Terlebih lagi materi yang ia bawa sering kali ditunggu para penonton adam. Terutama materi agak-agak mesum. Apakah akan seperti itu untuk selanjutnya? Ia harap tidak.

Beberapa dari komika yang sudah naik daun karena mereka memilih waktu yang tepat sehingga jalan yang dilalui lagi indah-indahnya. Beberapa lainnya salah memilih waktu untuk berjalan. Sisanya adalah orang yang seharusnya naik tapi lagi nggak ada daun yang bisa dinaiki.

"Maksudku, enggak semua komika yang naik daun itu sebenarnya layak untuk naik daun. Mereka bisa naik karena faktor tempat tinggal, relasi, dan lain-lain. Padahal kalau mau diadu dengan komik lokal, beberapa dari mereka skill-nya bisa dibilang tidak lebih baik dari komika lokal. Tapi ya begitulah, stand up comedy sudah menjadi industri besar dan diperbudak rating. Jadi mau tidak mau ya harus patuh pada minat pasar," kata Firda.

Ya mereka akan terus memanjat kariernya dan berusaha menelurkan karya-karya baru serta memperluas koneksi agar bisa survive. Misalnya dengan bergabung ke perusahaan milik Ernest Prakasa, bikin show, bikin buku, main film, atau.. bikin sensasi biar orang-orang sadar bahwa dia masih ada. (ded/ded)
star Terpopuler