inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Kamis, 27/04/2017 16:09 WIB

Konspirasi Alam Semesta, Karya yang Dilahirkan Kembali

Konspirasi Alam Semesta, Karya yang Dilahirkan Kembali Fiersa Besari (Foto: Lia Elita Robani)
Jakarta, CNN Indonesia -- Siang itu (16/4), area kantin hingga area parkir Institut Français Indonesia (IFI) dipenuhi oleh muda-mudi yang sedang mengantre. Teriknya matahari tidak menyurutkan niat mereka untuk bertemu orang yang dikagumi, tidak juga membuat mereka rela menyia-nyiakan tiket yang sudah dibeli dari jauh-jauh hari. Fiersa Besari, seorang pegiat musik sekaligus penulis yang namanya sudah tidak asing di kalangan anak muda, khususnya Bandung, adalah orang yang ditunggu.

Fiersa melahirkan kembali sebuah karya berkonsep albuk (album + buku) yang sebelumnya pernah ia terbitkan secara independen. Kali ini, albuk tersebut diresmikan dalam sebuah acara berbentuk mini konser bertajuk Konspirasi Alam Semesta yang digelar di Auditorium IFI Bandung, Jl. Purnawarman, Bandung. Setelah mengantre cukup lama dan menukarkan tiket dengan albuk, muda-mudi tersebut dipersilakan masuk ke sebuah ruangan. Wajah mereka tetap berseri-seri meski tidak disediakan kursi sehingga harus menonton konser sambil berdiri.

Dibuka dengan lagu berjudul Konspirasi Alam Semesta, penampilan Fiersa yang sederhana, hanya mengenakan kaos dan jeans, didukung oleh tata cahaya, sound system, dan gambar latar bertema semesta. Selama acara berlangsung, pegiat musik kelahiran Bandung itu menyanyikan enam belas lagu yang menjadi soundtrack tiap bab dalam buku Konspirasi Alam Semesta. Tidak hanya lagu-lagu yang sudah dikenal, Fiersa pun menyanyikan beberapa lagu secara perdana, seperti Kelana dan Selamat Tinggal.

Lelaki yang mendirikan perpustakaan Ruangan Imajinasi itu menceritakan pengalaman pahitnya dengan labelnya yang terdahulu. Fiersa tidak mendapatkan sedikit pun hasil dari albumnya dan ditinggalkan (lost contact) begitu saja. “Ini mengajari kawan-kawan juga kalau suka main musik atau menulis, kalau suatu saat kawan-kawan membuat perjanjian dengan pihak mana pun, diperhatikan dengan baik-baik kontraknya. Banyak sekali kontrak yang membuat seniman jadi tidak diperlakukan adil. Aku salah satu korbannya,” ungkapnya. Selama dua tahun album itu tidak bisa diapa-apakan karena masih terikat kontrak.

Akhir 2014 hingga pertengahan 2015, Fiersa dan kawan-kawan bermain musiknya yang biasa disebut Kerabat Kerja, membuat album Konspirasi Alam Semesta selama delapan bulan. Menggagas konsep albuk, album tersebut diterbitkan bersama sebuah buku dengan judul yang sama sebagai bonusnya. Kini, dengan konsep yang sama dan lebih matang, di tangan penerbit mayor Media Kita, Konspirasi Alam Semesta dianggap telah mengalami perbaikan. Mulai dari kerapihan, ketebalan halaman, kualitas kertas, hingga kemasan. Untuk buku berbonus CD, hanya ada di cetakan pertama. Sebelumnya, Fiersa bekerja sama dengan Media Kita dalam penerbitan buku Garis Waktu. Hingga sekarang, Fiersa telah mengeluarkan tiga buah album musik.

Konspirasi Alam Semesta bercerita tentang Juang Astrajingga dan Ana Tidae, dua manusia berbeda yang dipertemukan oleh semesta, lalu menjalin cinta di tengah berbagai rintangan. Fiersa berujar bahwa melalui bukunya ia ingin menyampaikan pesan sosial dan kemanusiaan. “Aku percaya cinta itu bukan hanya antara cewek dan cowok, tapi juga terhadap Tuhan, lingkungan, dan sesama,” tutur lelaki yang menggagas gerakan Aksi Menulis itu.

Fiersa juga mengatakan bahwa yang terpenting dari menjadi manusia adalah menyebarkan kebaikan, jangan hanya berharap orang lain yang berbuat baik kepada kita. Karena konsep albuk ini masih terbilang jarang di Indonesia, Fiersa berharap adanya sisipan album ini dapat menjadi cara baru untuk menikmati bacaan. Lelaki yang sering menjadi pengisi acara talkshow penulisan dan acara musik kampus itu menyarankan agar setiap musik didengarkan setelah membaca satu bab.

Alunan lagu yang dinyanyikan secara bersama oleh Fiersa dan penonton seakan membentuk ikatan emosi yang kuat. Semesta seakan benar-benar telah berkonspirasi untuk menyatukan mereka pada ruang dan waktu yang sama untuk melupakan sejenak segala keruwetan hidup. Beberapa lagu yang dinyanyikan, seperti Lembayung, sempat membuat penonton menangis. Salah satunya Iis Yuningsih, seorang Kawan Mengagumkan (sebutan untuk penggemar Fiersa) yang tinggal di Bogor ini rela pergi ke Bandung hanya untuk bertemu Fiersa.

Iis mulai tertarik dengan Fiersa sejak mendengarkan lagu-lagu dari album terdahulunya dan membaca kutipan-kutipan yang dibuat oleh Fiersa di Twitter. “Kalau baca kata-katanya itu kayak kita tuh larut di sana,” kata Mahasiswi jurusan Teknologi Hasil Hutan Institut Pertanian Bogor itu. Iis juga suka dengan karakter Fiersa yang menyukai tantangan. Terlihat dari dua bukunya yang telah terbit, brand ambassador Eiger itu menulis jenis yang berbeda, yakni senandika di buku Garis Waktu dan novel di Konspirasi Alam Semesta.

Di akhir acara, Fiersa mengingatkan bahwa esensi hidup ini bukanlah meminta follow back, namun berkarya hingga orang-orang mem-follow kita. Fiersa juga mengingatkan penonton untuk menganggap Fiersa dan mereka adalah saudara sehingga tidak perlu segan atau grogi saat bertemu. Ungkapan terima kasih yang dalam kepada Kawan Mengagumkan pun disampaikan. Tiket mini konser dan peluncuran albuk yang berjumlah 350 itu terjual habis. Acara yang berlangsung selama dua jam setengah itu terlihat lancar dan baik meski tanpa event organizer. Konser di akhiri dengan lagu baru berjudul Epilog.

Editor Media Kita, Juliagar, berpendapat bahwa Media Kita mau turut membesarkan nama besar Fiersa karena tulisannya bagus. Tidak hanya menuliskan cinta antara perempuan dan lelaki, namun mengandung nilai sosial dan humanis juga. “Dia memberikan andil terhadap anak-anak muda untuk membuka pikiran mereka,” kata editor yang sudah bekerja di Media Kita selama delapan tahun itu. Selain itu, menurutnya, tulisan Fiersa tergolong ringan sehingga nilai sosial dan humanis yang disisipkan mudah dimengerti.

Awalnya, Juliagar mengetahui tulisan-tulisan Fiersa dari akun Twitternya, lalu menghubungi Fiersa untuk bekerja sama. Alumni Sejarah Universitas Indonesia itu senang dengan konsep idola dan penggemar yang berusaha dihilangkan oleh Fiersa. “Kadang-kadang kita ngobrolnya juga di luar naskah, ngobrol film, isu-isu yang terjadi. Udah kayak teman sih. Harapanku sebagai editor dan sebagai teman, semoga Fiersa semakin sukses,” tuturnya ketika ditanya tentang harapan untuk Fiersa. (Deddy Sinaga/Deddy Sinaga)
star Terpopuler
Artikel Terkait