inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Jumat, 10/06/2016 07:20 WIB

Kisah Kebersamaan, Ramadan di Balik Rimbunan Sawit

Kisah Kebersamaan, Ramadan di Balik Rimbunan Sawit Ilustrasi pawai obor. (CNN Indonesia/ANTARA FOTO/Suwandy)
DKI Jakarta, CNN Indonesia -- Semangat toleransi dan kebersamaan akan membuat bulan Ramadan terasa semakin indah. Paling tidak itulah yang terekam di dalam ingatan masa kecil saya.

Saya menghabiskan masa prasekolah di sebuah afdeling di perkebunan sawit milik pemerintah di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara, tiga dekade lebih yang lalu. 

Istilah afdeling ini, kalau menurut sejarah, adalah sebuah wilayah administratif yang dianut pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda. Afdeling itu setingkat Kabupaten yang dipimpin seorang asisten residen. 

Tapi afdeling saya itu sebetulnya lebih mirip seperti kampung atau desa tanpa ada pejabat pemerintahannya. Paling ada sosok yang kami sebut dengan Asisten dan Mandor Satu.

Di afdeling ini, keluarga kami adalah satu dari sedikit keluarga nonmuslim di sana. Mayoritas penghuni afdeling adalah pendatang dari Pulau Jawa. Dulu mereka disebut dengan istilah Kuli Kontrak. Kata orang tua, mereka memang didatangkan langsung dari Jawa ke pelosok Pulau Sumatera ini.

Saban Ramadan tiba, suasana afdeling sangat terasa bedanya, khususnya bagi kami anak-anak. Terutama pada saat hari menjemput malam seusai berbuka puasa. Masjid akan menjadi pusat berkumpulnya anak-anak sekampung.

Mereka tahu, saya bukan penganut Islam. Tapi mereka tak pernah membiarkan saya kehilangan teman bermain. Sebelum saatnya tarawih tiba, mereka akan menjemput saya ke rumah, mengajak saya bermain ke masjid. 

Saya akan menunggui mereka sampai salat tarawih usai. Atau kadang-kadang diam-diam diajak ikut masuk ke barisan jamaah yang sedang menunaikan ibadah.

Masa yang paling seru adalah saat malam terakhir Ramadan tiba. Malam takbiran akan diisi dengan kegiatan berkeliling afdeling, menyerukan takbir sambil membawa obor. 

Dilanjutkan dengan memukul bedug dan menyerukan takbir di masjid sampai larut malam. Mereka mengizinkan saya sesekali ikut memukul bedug besar yang terbuat dari kayu utuh itu.

Lalu pada pagi harinya, selalu akan ada teman yang membangunkan saya pagi-pagi, mengajak berkumpul di masjid. Ikut meramaikan suasana salat Idul Fitri. 

Sebab, salat Idul Fitri di afdeling kami itu lain daripada yang lain. Usai salat biasanya seluruh jamaah akan makan bersama di halaman masjid, dengan membawa makanan masing-masing dan berbagi satu sama lain.

Itulah saatnya makan-makan enak. Terasa sekali kebersamaannya. Setelah acara ini, akan dilanjutkan dengan berkeliling dari rumah ke rumah melakukan sungkem

Ini akan jadi momen yang menyenangkan. Sebab kami bisa makan kue-kue enak dan dapat duit dari setiap rumah yang didatangi.

Sungguh suasana kebersamaan yang tak pernah bisa saya lupakan hingga sekarang. Bagaimana dengan kamu? Adakah pengalamanmu yang seperti itu? Yuk bagikan di sini. (ded/ded)
star Terpopuler
Artikel Terkait