edukasi
Edukasi
EDUKASI Minggu, 25/02/2018 05:17 WIB

Negeri Matahari Terbit di SMP Labschool Kebayoran

Negeri Matahari Terbit di SMP Labschool Kebayoran Foto: Dok. Reuters
Jakarta, CNN Indonesia -- Dalam rangka acara ACEX 2018, SMP Labschool Kebayoran mengadakan acara Labs International Cultural Day, atau biasa disingkat LICD. Kelas saya, kelas 7E, kedatangan tamu dari Jepang. Kami sangat antusias, seluruh dekorasi kelas kami kerjakan sendiri. Mulai dari gerbang kuil yang menghiasi pintu masuk, gantungan origami burung bangau di setiap jendela, bendera-bendera Jepang yang digantung sedemikian rupa, pohon sakura, sampai empat buah backdrop berisi lukisan keindahan Negeri Matahari Terbit.

Pada hari Jumat (23/2), kami memakai kaus kelas dan celana training Labschool beserta hachimaki, ikat kepala yang berasal dari Jepang. siswa-siswi kelas 7E juga turut membawa bendera Jepang. Berbeda dengan yang lain, maskot kelas kami, Sharen Nandiva dan Muhammad Athallah Raihan serta MC kami, Sashira Meiza dan Hasbi Cholid, mengenakan yukata, pakaian tradisional asal Jepang.

Saat utusan kedubes dari Jepang memasuki ruangan, kami duduk dengan tenang dan bersemangat di saat yang sama. Ada Sensei Risa Semidang dan Mrs. Azusa Hirata, yang kami panggil Azusa-san.

Sensei Risa Semidang adalah seorang blasteran Jepang-Indonesia sedangkan Azusa-san seorang warga negara Jepang asli yang baru tinggal di Indonesia selama 4 bulan. Azusa-san juga tidak terlalu lancar berbahasa Indonesia. Sehingga ia berbicara dengan bahasa Jepang dan Sensei Risa menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Sebelum memulai acara, mereka menanyakan tentang budaya Jepang apa saja yang kami ketahui. Sebagian besar menjawab anime, seperti Naruto dan komik Jepang seperti Doraemon dan detektif Connan, yang membuat suasana kelas dipenuhi oleh gelak tawa. Sensei Risa Semidang dan Azusa-san juga mengaku cukup terkejut saat kami mengetahui theme song Ninja Hattori dan beberapa anak ada yang menonton anime Sailor Moon.

Selain itu, Azusa-san menyusun presentasi yang sangat menarik mengenai Jepang. Beliau menyampaikan kami mengenai budaya Jepang melalui presentasi mengenai makanan Jepang. Tak hanya tahu banyak mengenai makanan Jepang, kami juga diberitahu tentang huruf Kanji, Katakana, dan Hiragana. kami juga diajarkan bahasa Jepang yang biasanya ada dalam suatu percakapan.

Sebagian besar waktu kami habiskan membuat Hashioki atau alas sumpit. Kami membuat Hashioki yang mudah dibuat dan terlihat lucu seperti bentuk hati dan bintang. Menurut Azusa-san, apabila seorang turis asing dapat membuat Hashioki saat sedang makan di Jepang, orang-orang Jepang akan sangat respek terhadap kita.

Tidak hanya mengenai Hashioki, kami juga diajari tata krama saat makan di Jepang. "Sebenarnya tata krama di Jepang sangat banyak. Tetapi salah satu yang paling penting untuk dipelajari adalah tata krama atau adab saat makan," ucap Sensei Risa Semidang.

Contohnya, di Jepang kita harus meletakkan Hashi (sumpit) milik kita saat sedang berbicara di atas meja. Sungguh tidak sopan bila kita mengacung-acungkan sumpit terhadap orang lain saat berbicara. Kita juga tidak diperbolehkan menaruh sumpit di atas piring saat makan. Orang Jepang akan menganggap kalau kita sudah selesai makan dan akan segera mengangkat piring milik kita. Sebelum memulai makan, kita juga mengucapkan Itadakimasu, yang dalam bahasa Indonesia artinya selamat makan.

Saat acara sudah ingin berakhir, Sensei Risa Semidang menyampaikan bahwa ia dan Azusa-san sangat terkejut dan kagum atas dekorasi kelas kami. Terlebih saat mereka diberitahu kalau siswa-siswi kelas 7E sendiri yang membuat dan mendekorasinya. Menurut mereka, apa yang sudah kami suguhkan sangat Omotenashi, yaitu istilah dalam bahasa Jepang yang mengungkapkan keramahtamahan atau penyambutan sepenuh hati kepada para tamu yang disambut.

Acara di kelas kami ditutup dengan sesi tanya jawab. Salah satu pertanyaan kami adalah apa perbedaan antara yukata dan kimono yang merupakan pakaian tradisional Jepang. Jadi, pada zaman dahulu, yukata hanya digunakan sebagai pakaian di rumah dan pakaian tidur. Perbedaan yang cukup mencolok antara yukata dan kimono adalah pemakaian kimono sampai berlapis-lapis, sedangkan yukata tidak.

Rasa lapar kami yang diakibatkan oleh suguhan presentasi Azusa-san mengenai budaya Jepang lewat makanan tradisional, akhirnya terbayarkan. Sebelumnya, kami memakan kue Mochi beserta Dorayaki dan meminum Ocha. Lalu, kami dibagikan sepiring sushi yang kami makan bersama-sama. Tak lupa, kami juga mempraktikkan table manner yang baru saja diajarkan dan memakai Hashioki kami masing-masing yang sebelumnya telah dibuat bersama.

Setelah acara makan bersama selesai, kami berfoto bersama dengan Sensei Risa Semidang dan Azusa-san. Suasananya sangat meriah sampai wali kelas kami, Bu Sumiati dan Bu Rina Maryana, juga turut memakai yukata kembar! Sungguh suatu pengalaman yang sangat mengesankan dan tak terlupakan. Kegiatan ini tentu akan meninggalkan kesan yang mendalam bagi kami mengenai Negeri Matahari Terbit yang terkenal dengan tata kramanya.


(ded/ded)
star Terpopuler
Artikel Terkait