edukasi
Edukasi
EDUKASI Sabtu, 24/02/2018 13:50 WIB

Belajar dari Negara Wafel

Belajar dari Negara Wafel Pertemuan dengan utusan dari Belgia di SMP Labschool Kebayoran, saat ACEX 2018 (Foto: UGC CNN Student/Hanefa Gentza)
Jakarta, CNN Indonesia -- "Belgium, please welcome Ms. Jolynn Beernaert and Ms. Anne Corstjens!" kata MC pada seremoni pembukaan LICD 2018. Sambutan tersebut langsung diikuti oleh tepukan tangan dan teriakan meriah serta lambaian bendera Belgia dari murid-murid kelas 7A.

Kedua maskot kelas 7A, M. Fananto dan Sarah Zahira Trishaputri, berperan sebagai MC yang memandu acara kelas. Mereka berdua memakai pakaian tradisional Belgia.

Selanjutnya, kedua narasumber memperkenalkan diri. Ms. Anne Corstjens berumur 20 tahun dan saat ini sedang menempuh studi dan bekerja magang di Belgium Trade Office selama empat bulan. Sedangkan, Ms. Jolynn Beernaert berumur 30 tahun dan telah pindah ke Indonesia sejak ia menikah dengan orang Indonesia dan juga bekerja magang di Belgium Office.

Mereka menceritakan tentang kota-kota besar di Belgia, makanan-makanan enak di sana, sekolah, musik, olahraga, dan komik-komik Belgia. Sedikit-sedikit, mereka juga mengajarkan cara Bahasa Belanda atau yang mereka sebut Flemish, satu dari tiga bahasa resmi Belgia.

Murid-murid terlihat sangat antusias. Banyak di antara mereka yang bertanya. Mereka menanyakan apa hal yang paling disukai dari Belgia, mengapa ada tiga bahasa resmi, dan lain-lain.

Ketika ditanyakan apa pendapat mereka tentang murid-murid di sini, Ms. Jolynn menjawab dalam bahasa Inggris, "Mereka sangat memotivasi. Kami di sini merepresentasikan negara kami dan ketika melihat semangat mereka, kami merasa termotivasi."

Usai sesi tanya jawab, kedua narasumber diajak bermain games bersama. Keduanya sempat merasa bingung dengan permainan tersebut. Tetapi, suasana tetap menjadi cair.

Mereka juga menyediakan makanan khas Belgia seperti endives au la viande gratinees, stoverij, wafel belgia, chocolate fondue dan buah-buahan, speculoos, mandeltorte, serta cokelat belgia. Uniknya, ada beberapa makanan yang dimasak sendiri.

"It tastes so good (rasanya sangat enak)," ujar Ms. Jolynn.

Bukan hanya keseruan acara, suasana di kelas pun telah diubah menjadi semarak Belgia. Meja-meja dan seluruh dinding kelas dilapisi kain tiga warna; hitam, kuning merah sesuai warna bendera Belgia. Di bagian depan kelas, terpampang foto pemandangan Belgia berukuran besar. Ada pula miniatur Atomium, landmark Belgia, yang terbuat dari bola sepak dan pipa pralon.

Sebagai rumah dari Comic Strip nomor satu di dunia, sentuhan komik Belgia seperti Smurf dan Tintin juga ikut meramaikan dekorasi kelas. Koleksi komik, DVD, dan figurin milik para murid ikut dipajang. Selain itu, dipajang replika roket dalam komik Tintin yang bahan-bahannya merupakan bahan bekas.

Kostum yang beraneka ragam juga menambah warna-warni kelas. Beberapa siswa mengenakan kostum Tintin dan teman-temannya, sementara yang lainnya memakai kostum biru ala Smurf. Sedangkan, para siswi menjadi Smurfette. Lainnya memakai kaos berwarna hitam, kuning, dan merah lengkap dengan selempang dan pin bendera Belgia.

Tentunya, bukan hal mudah untuk mempersiapkan acara di kelas itu. Butuh koordinasi yang baik antar murid dan dibantu dengan orangtua.

Kamis, 22 Februari, satu hari sebelum pelaksanaan LICD, mereka mendekor kelas sejak pukul 16.00 hingga pukul 19.00. Sempat terjadi kesulitan karena beberapa teman tidak ikut mengerjakan. Akibatnya, pekerjaan selesai lebih lama. Di sinilah para murid belajar untuk bekerja sama.

"Kita belajar, setiap hasil akan lebih mudah jika bekerja sama," ujar Linita Klaresti, salah satu murid kelas 7A. (ded/ded)
star Terpopuler
Artikel Terkait