edukasi
Edukasi
EDUKASI Senin, 12/02/2018 08:14 WIB

Mengenang Operasi Koteka di Papua

Mengenang Operasi Koteka di Papua Koteka dijual di pasar seni Hamadi, Jayapura. (Dok. UGC CNN Student/Hari Suroto)
Jayapura, CNN Indonesia -- Pada zaman Orde Baru dengan Keputusan Presiden RI Nomor 75 tahun 1969 dibentuklah Task Force Pembangunan Masyarakat Pedalaman di Irian Jaya (Papua), yang kemudian disempurnakan dengan Keputusan Presiden RI Nomor 27 tahun 1970.

Pada waktu itu berdasarkan penilaian tim Task Force, suku-suku di pedalaman terutama pegunungan Papua hidup dalam tradisi yang bisa dikatakan masih hidup di "Zaman Batu", mereka tinggal di honai dan laki-lakinya menggunakan koteka.

Salah satu program tim Task Force adalah memperkenalkan penggunaan pakaian modern kepada masyarakat, untuk menggantikan koteka. Program ini disebut dengan Operasi Koteka.

Program 'membusanakan' masyarakat ini mempunyai dampak positif dalam hal memperkenalkan generasi muda dengan nilai-nilai yang baru. Pada awalnya program ini berjalan lancar, namun lama-kelamaan masyarakat mulai meninggalkan dan bahkan menolak pakaian yang diperolehnya itu.

Hal ini terjadi karena, pakaian yang dibagikan ke masyarakat, dikenakan setiap hari tanpa dicuci dan tanpa pernah diganti. Pakaian kotor menimbulkan gatal dan masyarakat tidak mampu membeli sabun cuci dan pakaian baru.

Akhirnya masyarakat berkesimpulan bahwa pakaian modern sebagai pembawa bencana. Waktu itu banyak generasi muda kalau di kota memakai pakaian, tetapi pada saat pulang ke kampung kembali memakai koteka.

Walaupun demikian dengan berjalannya waktu, sekalipun dengan lambat, keinginan untuk berpakaian modern itu sudah mulai tumbuh pada generasi muda terutama anak-anak yang telah masuk sekolah dan para pemuda yang bekerja tetap pada instansi pemerintah.

Saat ini koteka hanya dipakai pada saat-saat tertentu saja, misalkan pada Festival Budaya Lembah Baliem. (ded/ded)
star Terpopuler