edukasi
Edukasi
EDUKASI Kamis, 11/01/2018 12:59 WIB

Menghapus Budaya Kekerasan di Tengah Remaja

Menghapus Budaya Kekerasan di Tengah Remaja Ilustrasi (Foto: Thinkstock/JohnDWilliams)
Jakarta, CNN Indonesia -- Beberapa tahun ke belakang kita mengetahui kisah geng motor di Bandung yang sangat beringas. Bila ingin masuk ke dalam geng motor tersebut, ada beberapa ritual “ospek” yang diwarnai kekerasan. Dari saling pukul antar calon anggota hingga dipukuli para ‘senior’. Hingga akhirnya jatuh beberapa korban yang meninggal karena kekerasan, misalnya dengan geng motor lain.

Hal ini bisa berkembang luas di kalangan remaja karena remaja perlu eksistensi. Mereka perlu menunjukan jati diri mereka, tetapi cara menyalurkan seperti ini adalah cara yang keliru.

Lalu, pada tahun lalu ramai sekali tentang fenomena klitih yang terjadi di Yogjakarta. Bagaimana para remaja bisa memukuli remaja lain tanpa alasan tertentu hingga terluka, bahkan meninggal dunia. Hal ini sangat miris dilakukan karena tidak ada motif yang jelas yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan tersebut.

Hal seperti ini juga terjadi pada siswa SMP di Bekasi pada 14 November 2017. Kronologinya, korban yang sedang berjalan dengan dua orang temannya sepulang sekolah tiba-tiba dihampiri sebuah kendaraan bermotor yang bermuatan 3 orang datang menghampiri korban yang sedang menyeberangi jalan. Lalu pelaku membacok korban hingga akhirnya korban tidak sadarkan diri.

Dua orang temannya membantunya dengan memapahnya ke pinggir jalan, karena tubuh korban yang lunglai, korban akhirnya terjatuh dan terlindas dump truck. Korban pun dilarikan ke RSUD Kabupaten Bekasi dan nyawanya tidak tertolong.

Pelaku di sini mempunyai motif utamanya adalah popularitas dan eksistensi. Mungkin dalam lingkungannya apabila belum melakukan hal ini belum bisa diterima. Hal ini menjadi mengerikan karena apa yang mereka anggap ini sebagai hal yang keren dapat merugikan orang lain hingga akhirnya jatuh korban.

Hal ini mungkin dipengaruhi oleh lingkungan yang menjadi tempatnya bergaul dan tempatnya hidup. Dimulai dari lingkungan kecil, yaitu keluarga, hingga lingkungan yang lebih kompleks. Bahkan lingkungan tempat mereka belajar dan menimba ilmu, memberikan mereka pengaruh yang bisa jadi buruk.

Lingkungan Sekolah
Hal-hal seperti ini sangat mudah sekali dalam merasuki remaja, yang masih menempuh sekolah. Sekolah seringkali menjadi kambing hitam atas terjadinya tindak kekerasan para remaja ini.

Sekolah juga menjadi lembaga yang harus bertanggung jawab apabila hal ini terjadi. Hal ini dirasa tidak adil, karena sekolah hanya mempunyai andil kecil dalam mendidik siswa-siswinya. Lalu, para siswa-siswi yang bisa ‘bermasalah’ biasanya dilatarbelakangi oleh kondisi keluarga dan lingkungan pergaulan para siswa-siswi, yang mana senantiasa mereproduksi kekerasan.

Sekolah sendiri tidak bisa menjadi kambing hitam dalam kasus kekerasan yang dilakukan oleh para remaja ini. Sekolah hanya bisa mengawasi siswa-siswinya sekitar delapan jam. Orang tua seharusnya menjadi tokoh dimana bisa mengatur dan membuat remaja ini menjadi lebih baik.

Dikutip dari Koran Sindo, fase pencarian jati diri ini membuat remaja semakin tidak mengenal pertimbangan dalam melakukan suatu hal hingga akhirnya mereka melakukan tindakan agresif yang diprakarsai emosi sesaat. Apabila hal ini tidak dikendalikan dengan baik, maka efeknya akan buruk, baik itu bagi remaja tersebut ataupun bagi orang lain.

Dalam data dari Global Status Report on Violence Prevention 2014 ada beberapa cara untuk mencegah hal ini agar tidak terulang kembali, dengan dilakukan program-program pencegahan. Program seperti keterampilan dan pembangunan sosial untuk membantu remaja mengelola kemarahan, menyelesaikan konflik dan mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk memecahkan masalah. Sekolah juga harus memiliki kurikulum prasekolah agar anak memiliki kemampuan akademik dan sosial sejak usia dini.

Lingkungan Keluarga
Hubungan keluarga remaja juga perlu diperhatikan, hubungan keluarga mempunyai andil penting dalam perkembangan remaja. Remaja yang biasanya tidak mendapat perhatian orang tua ataupun orang tuanya kacau akan berpengaruh sangat besar dalam perkembangan anak.

Serta ada beberapa hal lain yang bisa membuat anak menjadi seorang yang agresif, seperti kurangnya pengawasan oleh orang tua, kedisiplinan yang terlalu keras, kurangnya hubungan baik antara remaja dan orang tua, dan orang tua yang terlibat daalam kriminalitas juga menjadi salah satu hal yang mempengaruhi.

Hal-hal yang menjurus kepada kriminalitas seperti ini bisa saja dicegah oleh orang tua sejak dini. Kedekatan orang tua dan anak bisa mencegah anak melakukan tindak kriminalitas. Hubungan anak dan orang tua harus menjadi hal yang utama apabila orang tua tidak ingin anaknya jatuh ke lubang kriminalitas yang bisa mengganggu masa depan, atau bahkan kehidupan anak itu sendiri.

Dalam hal ini pemerintah seharusnya menjadi lembaga terdepan dalam mencegah hal-hal seperti ini terjadi. Karena regulasi pemerintah cukup bisa berpengaruh, terutama pada lembaga sekolah. Mungkin seperti kata pepatah, mencegah lebih baik daripada mengobati. Mencegah para remaja agar tidak masuk ke jurang kriminalitas akan lebih baik. (ded/ded)
star Terpopuler