edukasi
Edukasi
EDUKASI Senin, 17/07/2017 13:58 WIB

Mengapa Nutrisi Tanah Perlu Didaur Ulang

Mengapa Nutrisi Tanah Perlu Didaur Ulang Danau galian bekas tambang di Kalimantan Timur. Mikroba bisa dimanfaatkan untuk memulihkan tanah bekas galian tambang seperti ini. (ANTARA FOTO/ Wahyu Putro A)
Bogor, CNN Indonesia -- Data Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menunjukkan di permukaan Bumi kita ini, lahan yang cocok untuk pertanian hanya 11 persen. Masalahnya, 38 persen dari lahan itu sudah mengalami degradasi akibat kesalahan praktik pengelolaan sumber daya alam.

Salah satunya adalah praktik pertanian dengan penggunaan pupuk kimia nonrganik sintetik. “Kalau selama 25 tahun pakai pupuk kimia terus, bisa merusak tanah,” tutur Sarjiya Antonius, peneliti di Pusat Penelitian Biologi LIPI, di Bogor, Senin (17/7).

Anton melanjutkan, dari hasil riset LIPI, ketika tanah terpapar bahan kimia secara intensif terus menerus, terjadi perubahan sifat biokimia tanah. Biodiversitas tanah akan menurun.

“Jadi perlu untuk mendaur ulang nutrisi dalam tanah,” kata dia.

Salah satu elemen yang bisa membantu merestorasi tanah adalah Plant Growth-Promoting Rhizobacteria (PGPR) atau biasa disebut juga rizobakteri.

Anton menjelaskan, PGPR adalah rizobakteri pemacu tumbuhan di tanah. Bakteri akan bekerja dan mengatasi masalah di tanah, misalnya stres masalah lingkungan, kondisi tanah, fisik, dan sebagainya. “PGPR ini bisa 100 persen merestorasi tanah,” katanya.

Pusat Penelitian Biologi LIPI mengembangkan mikroba ini agar bisa dipakai petani Indonesia. Mereka juga bekerjasama dengan industri dan kelompok masyarakat.

Anton mengatakan, pihaknya menciptakan produk mikroba ini dengan lisensi noneksklusif sehingga perusahaan bisa mengambilnya dengan mudah.

Rizobakteri ini bisa dipakai pada tanaman padi, palawija, tanaman keras, dan sebagainya. Dia juga bisa membantu memulihkan kondisi tanah yang rusak akibat pemanfaatan. Misalnya bekas tambang.  

Sementara itu Profesor Dr. Enny Sudarmonowati, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI mengatakan, formula produk rizobakteri bikinan mereka akan dikembangkan lebih lanjut dengan spesifikasi berbeda pada setiap tanaman.

“Termasuk varian lain, misalnya tidak cuma berbentuk cair, tapi bisa juga dalam bentuk tepung supaya lebih mudah dipakai oleh masyarakat,” tuturnya.

Tantangannya, tak mudah meyakinkan petani untuk beralih 100 dari pupuk kimiawi. “Makanya skema yang kita tawarkan 50:50 dulu. Tetap pakai pupuk kimia. Dengan cara itu sudah bisa impact kenaikan produksi sampai 80 persen,” ujar Enny.
 
Hari ini di Bogor berlangsung konferensi yang mempertemukan para pakar mengenai PGPR di Asia, termasuk beberapa negara Eropa, Australia, dan Amerika Serikat.

Enny mengatakan ada delegasi dari 16 negara yang hadir, dengan total peserta lebih dari 250 orang. Konferensi ini diharapkan mengoptimalkan komunikasi dan pertukaran informasi hasil riset rizobakteri supaya tercipta kerjasama dengan berbagai instansi, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (ded/ded)
star Terpopuler