edukasi
Edukasi
EDUKASI Jumat, 14/07/2017 13:05 WIB

Klug, Taman Baca yang Mengenalkan Pariwisata di Purwakarta

Klug, Taman Baca yang Mengenalkan Pariwisata di Purwakarta Klug, taman bacaan yang mengenalkan pariwisata Purwakarta. (UGC CNN Student/Lia Elita Robani)
Purwakarta, CNN Indonesia -- Mengacu kepada Kamus Besar Bahasa Indonesia, saung adalah bangunan kecil seperti rumah di sawah atau di kebun. Namun nyatanya tidak selalu begitu. Lihatlah saung yang terletak di Desa Sawah Kulon, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta. Di beranda rumah berpagar hijau, berdiri sebuah saung yang kondisinya masih sangat baik. Sebuah spanduk berilustrasi tumpukan buku tergantung di bagian depannya. Spanduk itu memberi petanda, saung tersebut bukan sekedar saung biasa untuk istirahat.

Saung yang didampingi kolam ikan itu adalah taman baca Klug yang didirikan oleh Dian Handayani. Mahasiswi Sastra Jerman Universitas Indonesia ini membangun Klug bersama teman-temannya yang juga kuliah di kampus yang sama, yaitu Alpiadi Prawiraningrat dan Jaya Wina. Pohon sawo yang rindang ikut serta menemani taman baca yang diresmikan pada 4 Desember 2016 itu. Nama Klug diambil dari bahasa Jerman yang berarti cerdas.

“Aku tuh dulu waktu kecil jarang banget dikenalin buku, terus pas masuk kuliah kayak nyesel gitu. Ngapain aja ya kemarin, gak baca buku banyak. Sekarang pas udah banyak tugas kuliah jadi berasa waktu untuk baca jadi sedikit. Di sini emang banyak anak kecil, udah pada pegang HP. Pengennya sih untuk ningkatin minat baca, tapi biar mereka kenal aja dulu sama buku,” tutur Dian mengenai latar belakang didirikannya Klug.

Saat ditemui pada 2 Juli 2017, Dian mengaku, awalnya hanya iseng ketika mengutarakan keinginannya untuk membuat taman baca. Namun, ternyata teman-temannya mendukung dan mau membantu. Sempat bingung karena tidak punya banyak buku, Dian akhirnya diberi pencerahan oleh temannya untuk mengumpulkan buku melalui donasi. Bapaknya pun ikut membantu dalam pembuatan saung. Konsep bangunan berupa saung yang bermaterial kayu, bambu, dan bilik dipilih untuk mengenalkan arsitektur tradisional khas Sunda kepada anak-anak.

Selain membuka donasi buku melalui media sosial, Dian dan teman-temannya menjual scarf dan kerajinan. Motif batik tradisional modern menghiasi scarf yang dijual, salah satunya batik mega mendung dari Cirebon. Sedangkan produk kerajinan bernama Bamboo terdiri dari bermacam jenis seperti pengeras suara, lampu belajar, kap lampu, dan pot bunga. Selain untuk merealisasikan Klug, mereka juga berupaya melestarikan budaya bangsa lewat usaha itu.

Berbicara mengenai Klug yang memiliki arti cerdas, alumni SMAN 1 Purwakarta ini ingin anggota Klug memiliki pemahaman pariwisata di Purwakarta. Hal itu tercermin dalam konsep Klug sebagai taman baca berkonsep pariwisata. “Visi Klug itu kan cerdas pariwisata. Dengan mengenal buku, dia juga dikenalkan dengan pariwisata. Dengan dia tahu pariwisata yang ada di Purwakarta, diharapkan dia juga tahu tentang pariwisata itu sendiri. Dikasih tahu harus bersih, jangan (melakukan) vandalisme.”

Tujuan cerdas pariwisata tersebut ditunjukkan melalui berbagai kegiatan yang terangkum menjadi 7 Aktivitas Seru!. Tujuh kegiatan itu adalah Ayo Jelajah!, Kelas Inspirasi, Mari Menanam, Yuk Kreatif!, Asli Purwakarta, Regepkeun, dan Sehen. Dian berkata, semua kegiatan telah dilaksanakan, kecuali Sehen (nonton) karena tidak ada proyektor. Kegiatan-kegiatan itu nantinya akan diadakan kembali dengan konten yang berbeda.

Di dalam saung, sebuah papan tulis kecil berwarna putih digantungkan pada bambu. Di kiri kanannya, ada poster yang membarengi. Kedua poster didominasi warna ungu tua. Poster kiri berjudul Produk Lokal Purwakarta menampilkan makanan dan kerajinan khas Purwakarta, seperti simping, sate maranggi, colenak, gula Cikeris, manisan pala, wayang, menong, dan gerabah Plered. Sedangkan poster kanan berisi tentang Tempat Wisata di Purwakarta, di antaranya Gunung Bongkok, Jatiluhur, Curug Pamoyanan, Taman Sribaduga, Taman Maya Datar, Pendopo, Gerabah Plered, Situ Wanayasa, Gunung Parang, Kampung Tajur, Giri Tirta, dan Bale Panyawangan.

Satu rak buku lima kolom berwarna ungu muda tergantung di bagian pojok kiri dalam saung. Di dekatnya, tertempel larangan membuang sampah, hihid (kipas yang terbuat dari bambu), hiasan bunga artifisial, dan tata cara peminjaman serta peraturan yang diberi bingkai. Buku-buku yang lain dijajarkan di atas kayu di bawah papan tulis sehingga bisa tetap diraih meski sambil duduk. Menengok ke bagian langit-langit, ada dua buah lampu yang salah satunya dinaungi cetok.

Selain menerapkan unsur tradisional Sunda, Klug juga mengaplikasikan aspek daur ulang. Sebuah ban yang dicat ulang dengan cat warna ungu dapat digunakan sebagai meja. Ban itu terletak di dekat meja kecil berbahan kayu yang menjadi hunian berbagai benda, ada buku untuk keperluan data, pengeras suara, kalender, juga hiasan, seperti tanaman hias dan ikan hias.

Buku-buku yang ada di Klug, sebagian besar didapatkan dari hasil donasi, sisanya dibeli mandiri. Dian menaksir sudah ada lebih dari 200 buku di taman bacanya. Mulai dari buku cerita bergambar, dongeng, ensiklopedia, seri islami, komik, novel, hingga buku mengenai budaya dan pariwisata. “Ternyata mereka itu senengnya buku cerita bergambar, yang sedikit bacaan dan banyak gambar,” ucap Dian sambil mengambil lalu menunjukkan buku seri dongeng berjudul “Laba-laba yang Sabar” yang menjadi kegemaran anak-anak.

Sejauh ini, Klug telah memiliki 70 anggota. Untuk membuat mereka tetap semangat, setiap bulan Dian memberi penghargaan bagi anggota yang membaca dengan jumlah buku paling banyak.

Empat orang menjadi pengurus Klug saat ini, Dian sebagai founder, Alpiadi sebagai co-founder, Wina sebagai co-founder dan designer, juga Ichad sebagai fund-raiser. Dian bercerita, banyak teman-temannya yang mau berkunjung ke Klug, mereka berminat jadi volunteer. Namun, ia merasa belum siap. Taman baca ini hanya buka pada Sabtu dan Minggu pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Jika Dian di Depok, orang tuanyalah yang menggantinya mengurus Klug. Meski dikhususkan untuk anak-anak rentang usia 7 sampai 14 tahun, Klug terbuka bagi siapapun.

Guna melebarkan sayap, Klug melakukan kerja sama dengan taman baca lain. Misalnya dengan Rumah Baca Halwa, taman baca yang berada di Sawit, Darangdan, Purwakarta. Mereka berkolaborasi dalam kegiatan Ayo Jelajah!. Anggota Klug dan Rumah Baca Halwa berjelajah ke berbagai tempat wisata edukasi di Purwakarta. Klug juga ikut serta dalam Forum Taman Baca Masyarakat Purwakarta, berkolaborasi dengan Sanggar Sastra Purwakarta saat memperingati Hari Buku dan Hak Cipta Dunia. Tidak hanya dengan taman baca, Klug juga berkolaborasi dengan Urang Purwakarta, media anak muda yang fokus pada promosi potensi Purwakarta.

Ditanya soal yang membedakan Klug dengan taman baca lain, Dian berujar, Klug memiliki kegiatan yang terkonsep sehingga anak-anak memiliki kegiatan yang jelas. Mereka tidak sekedar membaca dan menjadi mudah bosan. “Yang narik mereka, kita punya tujuh kegiatan ini,” ujar Dian yang saat itu mengenakan kerudung instan berwarna abu.

Seorang anak laki-laki datang ke Klug dengan berjalan kaki dari rumahnya di Selabaya, Pasawahan. Anak berkaos hijau ini adalah Muhammad Rio Rizkiansyah yang baru pertama kali mengunjungi Klug. Murid kelas enam SD ini mengetahui Klug dari temannya. Ia berkata ingin membaca buku di Klug. Rio menanyakan letak komik pada Dian. Dian memberi petunjuk, komik ada di rak. “Suka baca komik, seminggu tiga kali,” kata Rio ketika ditanya soal bacaan kesukaannya. Dian pun menyuruh Rio untuk membaca peraturan dan tata cara peminjaman, kemudian memberinya kartu anggota. Kini, anggota Klug pun bertambah lagi. (ded/ded)
star Terpopuler