edukasi
Edukasi
EDUKASI Selasa, 20/06/2017 17:48 WIB

Lalat Tentara Hitam, Si Pemakan Sampah

Lalat Tentara Hitam, Si Pemakan Sampah Ilustrasi lalat. (Foto: Unsplash/Pixabay)
Bandung, CNN Indonesia -- Berawal dari ketidaksengajaan, sebuah tim dari laboratorium entimologi Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH), Institut Teknologi Bandung (ITB), menemukan lalat pemakan sampah organik. Pada awalnya, tim tersebut hanya mencari serangga yang dinilai berguna untuk manusia. Kemudian mereka menemukan lalat hitam besar ini selalu ada pada sampah-sampah organik. Maka mulailah dilakukan penelitian terhadap lalat tersebut.

Di dalam laboratoriumnya, Dr. Ramadhani Eka Putra, dosen SITH ITB, menceritakan awal mula penelitian tersebut sambil memisahkan larva-larva dari sampah. Tujuan awalnya, memang bukan untuk pengelolaan sampah. Akan tetapi, penelitian ini sudah pernah dilakukan di Amerika Serikat, sehingga ia bersama tim mencari lalat tersebut ada atau tidak di Indonesia.

Ternyata di Depok ada lembaga penelitian ikan hias yang sudah meneliti lalat ini, bekerja sama dengan pemerintah Kota Depok. Selain itu secara bersamaan ternyata beberapa kelompok masyarakat sudah ada yang mengembangkan pengolahan sampah menggunakan lalat 'tentara hitam' ini.

Namun, untuk tingkat ilmu sainsnya masih rendah. Biasanya kelompok masyarakat itu hanya menggunakan lalat tersebut untuk pakan ternak saja.

Hermetia illucens, atau lalat 'tentara hitam' adalah lalat yang termasuk keluarga Stratiomyidae. Larva yang sudah berumur dewasa tidak dianggap sebagai hama. Sebaliknya, larva lalat tentara hitam memiliki peran yang sama dengan cacing merah, yaitu sebagai pengurai dalam menghancurkan bahan organik dan mengembalikan nutrisinya ke tanah.

Larva lalat tentara hitam adalah sumber protein yang sangat baik untuk pakan ternak, dan nutrisi hewan peliharaan. Larva ini juga sangat rakus dan bisa digunakan untuk mengurai sisa makanan rumah tangga dan produk limbah pertanian.

Panjang lalat berkisar antara 15-20 mm dan mempunyai waktu hidup lima sampai delapan hari. Dalam mengurai sampah-sampah organiknya, larva ini butuh waktu sekitar dua atau tiga minggu. Tergantung jenis sampah organik yang diurainya. Jika mengandung lebih banyak serat maka akan semakin lama proses penguraiannya.

“Lalat ini tidak rewel yah, sampah apa saja bisa dimakan asalkan sampah organik. Pernah dicoba menggunakan kertas nasi, ternyata tetap dimakan. Tapi plastik-plastiknya tidak,” ujar lelaki yang biasa dipanggil Rama itu, dengan tawa ringannya.

Hasil akhirnya, setelah bahan organik itu diurai oleh larva-larva tersebut bisa dimanfaatkan menjadi pupuk kompos. Jika sampah organiknya lebih banyak mengandung air maka bisa menjadi pupuk cair dan bagus untuk tanaman. Maka dari itu, selain bisa menjadi pakan ternak, hasil uraian dari larva ini bisa menjadi media tumbuh atau pupuk kompos.

Kelebihannya, pupuk kompos ini dibuat tidak ada campur tangan manusia. Pada umumnya, pembuatan pupuk kompos harus diaduk oleh manusia. Tapi dengan larva ini manusia tidak ikut campur sama sekali. Hanya dibiarkan, kemudian jika sudah selesai tinggal memisahkan larva tersebut dari sampah. Seperti yang sedang dilakukan Rama di laboratoriumnya.

Selain menjadi pupuk kompos dan pakan ternak, hasil dari uraian sampah organik ini bisa juga dijadikan tepung pupai. Harapannya tepung pupai ini sebagai cikal bakal pengganti tepung ikan.

Hanya saja, larva-larva ini membutuhkan oksigen yang banyak. Jadi tidak bisa mengurai sampah dalam jumlah yang banyak. Jika dipaksakan proses penguraiannya tidak akan optimal. Harapannya, bagi Rama dan timnya dari penemuan ini, bisa mengurangi jumlah sampah yang tersebar.

“Selama ini kan, sampah non organik bisa didaur ulang. Banyak bank sampah, tapi kalau untuk sampah organik masih belum ada,” tambahnya.

Menurut data dari PD. Kebersihan Kota Bandung, timbulan sampah masyarakat Kota Bandung saat ini diproyeksikan sebesar 1.549 ton per hari dengan jumlah penduduk pada tahun 2014 sebanyak 2.748.732 dan sampah yang terangkut ke Tempat Pemrosesan Akhir sampah (TPA) sebesar kurang lebih 1100 ton per hari, dengan komposisi sampah organik sebesar 57% dan anorganik sebesar 43%.

Bahkan menurut data dari panitia Adipura Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia perkiraan jumlah timbulan sampah tahun 2015-2016 di Indonesia mencapai 1.099 juta ton per tahun. Dengan persentase jenis sampah organik sebesar 60%, sampah plastik 14%, sampah kertas 9%, logam 4,3%,karet 5,5%, kaca 1,7% dan lainnya 2,4%.

Proses penguraian menggunakan lalat 'tentara hitam' ini masih dilakukan dalam jumlah yang kecil. Belum sampai tahap produksi yang besar. Tim penelitian pun masih mengenalkan proses penguraian ini pada komunitas-komunitas yang tersebar di Bandung dan sekitarnya. Harapannya, lalat ini bisa dimanfaatkan oleh banyak orang, sekaligus bisa mengurangi sampah-sampah yang ada di Indonesia.

“Tapi karena ini lalat, masyarakat masih banyak yang takut,” ujar Rama sambil tertawa. (Deddy Sinaga/Deddy Sinaga)
star Terpopuler
Artikel Terkait