edukasi
Edukasi
EDUKASI Senin, 15/05/2017 09:42 WIB

Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Periset?

Mengapa Indonesia Masih Kekurangan Periset? Ilustrasi (Foto: Thinkstock/Vonschonertagen)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sebuah negara akan cepat mengalami kemajuan bilamana memiliki periset yang berlimpah dan berkualitas. Periset sangat penting bagi perkembangan kemajuan suatu bangsa. Dengan hasil penelitiannya akan dihasilkan suatu produk yang dapat menunjang sektor industri maupun kemudahan bagi masyarakat.

Profesi peneliti di Indonesia masih sangat minim, mungkin karena faktor dukungan dari pemerintah maupun swasta yang belum memberikan apresiasi yang layak bagi seorang peneliti. Hal ini juga yang menyebabkan kurang minatnya generasi muda untuk bergelut di profesi sebagai periset. Data dari Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) pada 2016 menyebutkan bahwa kuantitas periset di negeri ini adalah yang paling sedikit di antara negara-negara anggota G-20.

Rasio jumlah periset di Indonesia, menurut sumber tersebut, yaitu 89 peneliti untuk per 1 juta penduduk. Dibandingkan dengan Singapura—jawara ASEAN—yang memiliki 6.658 peneliti per 1 juta penduduk, Indonesia masih jauh tertinggal.

Kondisi tersebut semakin bertambah berat karena kualitas peneliti dalam negeri pun dinilai masih belum memadai. Hal ini, terlihat dari jumlah publikasi ilmiah periset lokal yang masih tertinggal dari negara tetangga.

Dikutip dari Kopertis12.or.id pada Senin(16/1/2017), dalam setahun Indonesia hanya mampu menghasilkan 6.260 riset. Sementara Malaysia mampu membuat 25.000 riset, Singapura 18.000 riset, dan Thailand 12.000–13.000 riset.

Melihat kenyataan ini sangat memprihatinkan mengingat penelitian memiliki peran yang sangat besar dalam memajukan suatu bangsa. Contoh saja, Amerika, China, Inggris, Jerman, dan Jepang. Negara-negara maju itu masuk dalam peringkat 5 besar sebagai negeri terbaik dalam hal publikasi ilmiah menurut scimagojr.com.

Bukan saja menyoal jurnal limiah, di beberapa industri dalam negeri pun kedapatan minim sekali melakukan research and development (RnD) atau penelitian dan pengembangan. Misalnya, pada industri berbasis sains seperti farmasi.

Hal ini terungkap pada sebuah tulisan di portal Kemenperin.go.id, Rabu (27/1/2017), meski menguasai 70 persen pasar kebutuhan farmasi dalam negeri, industri ini masih mengimpor 95 persen bahan baku obat. Sangat miris rasanya melihat hal tersebut, ini terjadi karena mereka tidak melakukan RnD.

Merujuk laman Kontan, Senin (13/2/2017), pasar produk farmasi di Indonesia rata-rata tumbuh 10 persen per tahun pada periode 2011-2015. Tahun lalu saja nilai transaksi pasar diperkirakan mampu mencapai Rp 69 triliun dan di prediksi pada tahun 2020 akan menghasilkan Rp 102 triliun. Suatu angka penjualan yang fantastis, andai di imbangi dengan riset yang berjalan tentunya nilai tersebut akan bertambah dan memberikan keuntungan finansial yang lebih bagi perusahaan maupun negeri ini.

Apa Yang Harus Dilakukan?
Untuk menjawab tantangan di industri farmasi nasional, Presiden Joko Widodo telah mengeluarkan regulasi. Jokowi menerbitkan Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Salah satu poin penting dari instruksi tersebut adalah memerintahkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) untuk mengoordinasikan, serta mengarahkan penelitian dan pengembangan ketersediaan farmasi dan alat kesehatan.

Menristekdikti diminta pula melakukan dan mendorong pengembangan tenaga riset dengan mendirikan fasilitas riset, terutama studi klinik dan studi non-klinik.

"(Pengembangan itu) dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga ahli, industri farmasi, dan alat kesehatan," tegas Presiden seperti dirilis situs web Sekretariat Kabinet, Selasa (19/7/2016).

Dari sektor swasta, beberapa lembaga pendidikan telah memulai langkah serupa. Salah satunya, Indonesia International Institute for Life Science (i3L).

Dalam operasionalnya, kampus itu punya kurikulum internasional berbasis sains dan bisnis. Dengan demikian, para mahasiswa tak hanya dididik menjadi ilmuwan tapi juga pebisnis sehingga bisa memasarkan produk temuannya.

Dilansir dari Kompas.com Senin (16/1/2017) Kepala Program Magister Bio-Management Management i3L Cristina Gomez dalam keterangannya, menyebutkan bahwa pihak manajemen pada dasarnya ingin membantu sektor industri berbasis teknologi di Indonesia dalam menghasilkan periset-periset yang unggul dan siap berkompetisi.

Lebih lanjut, kata Gomez, institusi ini punya program Magister Bio-Management. Melalui program ini, para mahasiswa dapat memperoleh gambaran utuh mengenai alur kerja di perusahaan berbasis sains, termasuk industri farmasi.

Mereka bisa belajar langsung dan menyelami betapa industri ini berkembang cepat mengikuti hasil penelitian terbaru. Langkah ini diharapkan dapat mendorong berbagai pihak untuk membantu pemerintah memenuhi kebutuhan tenaga ahli dan riset di industri berbasis sains. (Deddy Sinaga/Deddy Sinaga)
star Terpopuler