edukasi
Edukasi
EDUKASI Kamis, 05/01/2017 18:12 WIB

Mengenal Antonio Guterres, Sekjen Baru PBB

Mengenal Antonio Guterres, Sekjen Baru PBB Foto: REUTERS/Denis Balibouse
Jakarta, CNN Indonesia -- 1 Januari 2017 menandakan pergantian Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa Bangsa. Antonio Guterres, seorang politikus asal Portugal terpilih sebagai Sekjen PBB baru, menggantikan Ban Ki-Moon dari Korea Selatan. Guterres merupakan Sekjen PBB kesembilan sejak organisasi internasional tersebut berdiri pada tahun 1945.

Antonio Guterres merupakan seorang Portugal. Terlahir pada 30 April 1949, Guterres memiliki latar belakang pendidikan di bidang teknik dan fisika. Pendidikan tersebut ditempuhnya di Instituto Superior Tecnico dan lulus pada tahun 1971. Saat ini Guterres memiliki seorang istri dan dua orang anak.

Sebenarnya, setelah lulus dari Instituto Superior Tecnico, Guterres sempat jadi akademisi. Namun hal tersebut hanya bertahan hingga 1974 sebelum ia bergabung ke Partai Sosialis dan akhirnya menjadi politikus.

Ia terpilih menjadi salah satu anggota parlemen di Portugal dan menjadi anggota parlemen selama 17 tahun. Di parlemen, Guterres pernah menjadi bagian dari beberapa Komisi, yakni pada Komisi Ekonomi, Finansial, dan Perencanaan, serta Komisi Administrasi Teritorial, Perkotaan, dan Lingkungan. Bahkan Guterres juga pernah menjadi kepala fraksi partainya di parlemen.
 
Pada tahun 1992 Guterres terpilih menjadi pucuk tertinggi di partainya, yakni sebagai Sekjen Partai Sosialis. Tiga tahun menjadi Sekjen partai, Guterres terpilih menjadi Perdana Menteri Portugal. Ia menjabat sebagai Perdana Menteri Portugal selama tujuh tahun hingga tahun 2002. Selama menjadi Perdana Menteri, turut aktif dalam menyelesaikan krisis di Timor Timur.
 
Selama menjadi Perdana Menteri, Guterres juga turut aktif dalam ranah multilateral. Keaktifan tersebut khususnya ditunjukkan di kawasan Eropa, di mana ia pernah menjadi Presiden European Council pada tahun 2000. Selama masa kepemimpinannya di European Council, Agenda Lisbon berhasil diadopsi.

Agenda tersebut merupakan serangkaian aksi dan perencanaan pembanguan ekonomi bagi negara-negara Uni Eropa antara tahun 2000 hingga 2010. Pada saat menjadi Presiden European Council, Guterres juga turut memimpin sidang umum Uni Eropa-Africa, di mana sidang tersebut pertama kali dilaksanakan ketika masa kepemimpinannya.

Setelah keaktifan di ranah pemerintahan dan politik selama lebih dari 20 tahun berakhir, Guterres masih tetap aktif dalam ranah multilateral. Guterres dipercaya sebagai United Nations High Commissioner for Refugees pada Juni 2005 hingga Desember 2015. Tentu menjadi tugas yang berat saat itu dimana UNHCR memiliki 10.000 staf yang beroperasi di 125 negara.

Namun, Guterres berhasil menunjukkan performa baik. Ia melakukan reformasi besar-besaran ketika ia memangkas jumlah staf yang ada di kantor pusat UNHCR di Swiss dan menambah jumlah staf di lapangan, khususnya di daerah-daerah krisis. Sehingga keberadaan UNHCR pada masa kepemimpinan Guterres lebih bermanfaat nyata dan dekat dengan destinasi program.

Terpilih Menjadi Sekjen PBB

Pada Sidang Umum PBB tanggal 13 Oktober 2016, Guterres dipilih secara aklamasi oleh 193 negara anggota sebagai Sekjen PBB mulai 1 Januari 2017 menggantikan Ban Ki-Moon. Sebagai Sekjen PBB, Guterres akan memegang peran sebagai kepala administrasi dan juga menjadi juru bicara yang mengedepankan kepentingan masyarakat dunia. Pada situs resmi PBB, Sekjen dikatakan sebagai “Equal parts diplomat and advocate, civil servant, and CEO”.

Guterres dipercaya akan membawa harapan dan optimisme baru di PBB. Banyak kalangan yang telah mengakui kemampuan manajerial Guterres selama di Portugal, dan khususnya di UNHCR. Ban Ki-Moon pada pidato di Sidang Umum PBB mengatakan bahwa Guterres merupakan orang yang cocok untuk berada di garis terdepan dalam konflik bersenjata juga kejahatan-kejahatan kemanusiaan.

Tantangan yang Banyak

Sebagai Sekjen PBB tentu banyak tantangan yang akan dihadapi oleh Guterres. Fenomena-fenomena dunia yang terjadi beberapa tahun ke belakang menunjukkan bahwa tugas PBB semakin hari akan semakin berat. Terorisme merajarela sepanjang 2016, dari awal hingga penghujung tahun. Isu-isu kemanusiaan juga terus berdatangan.

Selain itu, tantangan bagi Guterres juga datang dari anggotanya. Fenomena yang baru saja terjadi adalah dampak dari Resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap pendudukan pemukiman Yahudi di Palestina oleh Israel. Resolusi tersebut mendapat kecaman dari Israel. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu bahkan sempat menyatakan akan menghentikan bantuan dana ke badan-badan PBB untuk sementara waktu.

Tantangan juga mungkin muncul pada 20 Januari 2017 di mana Amerika Serikat akan memiliki presiden baru secara resmi, yakni Donald Trump. Trump yang memenangkan pilpres setelah mengalahkan Hillary Clinton menunjukkan indikasi untuk memperkuat aliansi dengan Israel. Trump juga mengindikasikan tidak suka dengan kerjasama-kerjasama multilateral, khususnya PBB. Dan lebih parahnya lagi, dengan adanya indikasi tersebut membuat munculnya peluang Amerika Serikat di masa kepemimpinan Trump akan menghentikan bantuan dana, dan lebih parahnya lagi keluar dari PBB.

Namun, tentu Guterres sudah tahu segala tantangan, konsekuensi, dan ekspektasi dari para pemegang harapan setelah terpilih menjadi Sekjen PBB. Tentu kita semua menantikan progres yang dibawakan Guterres dalam lima tahun ke depan.

Optimisme Guterres disampaikan dalam pesan pertamanya setelah resmi menjadi Sekjen PBB yang diunggah di saluran resmi PBB di Youtube. Ia menekankan “Put peace first” sebagai kunci dari segala upaya yang PBB lakukan dalam menyelesaikan segala persoalan di bawah kepemimpinannya. (ded/ded)
star Terpopuler