edukasi
Edukasi
EDUKASI Rabu, 22/06/2016 14:24 WIB

Mempelajari Fotografi dan Menjadi Fotografer

Mempelajari Fotografi dan Menjadi Fotografer Ilustrasi (lzf/Thinkstock)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dewasa ini, fotografi semakin mudah dilakukan oleh siapa saja mulai dari masyarakat awam, hobbyist hingga para profesional. Apalagi, kini peralatan fotografi pun lebih ringkas, terjangkau dan mudah digunakan. Pada masa-masa awal perkembangannya, kamera (waktu itu disebut camera obscura) berukuran sangat besar, sulit berpindah (mobile) dan waktu pemrosesan gambarnya sangat lama dan biayanya pun mahal, sehingga fotografi hanya dinikmati oleh segelintir orang saja.

Seiring berjalannya waktu, kamera mengalami perubahan wujud, perkembangan mekanisme, dan juga modernisasi. Ukuran kamera berkembang menjadi semakin kecil dan semakin ringkas. Mulai dari kamera format besar, format sedang dan format kecil, serta kamera dengan lensa yang bisa dilepas-tukar (interchangeable) Pada akhir abad 20 diperkenalkan sistem lensa yang bisa mengatur focus secara otomatis (autofocus) dan pada awal abad 21 terjadi konversi dari format film seluloid ke digital imaging dengan hadirnya kamera digital saku dan kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) yang pernah menjadi tren di kalangan anak muda, dan yang paling baru dan sedang naik daun adalah kamera tipe mirrorless yang lebih kompak dan ringkas daripada DSLR.

Produsen-produsen telepon seluler (kini akrab dengan nama smartphone) juga mengembangkan fitur kamera yang canggih seperti ukuran gambar belasan megapiksel, autofocus yang cepat, pendeteksi wajah, mode manual exposure seperti pada DSLR (pada smartphone tipe tertentu) dan fitur-fitur hebat lainnya. Jadi, jelaslah bahwa dunia fotografi kini sudah merakyat, bisa dimasuki siapa saja secara murah-meriah.

Dalam artikel ini akan dibahas langkah-langkah untuk memasuki dan larut dalam dunia fotografi, dari yang awalnya tidak paham apapun mengenai fotografi hingga menjadi seorang fotografer dengan kapabilitas yang baik dan portofolio yang mampu menggugah minat dan perhatian serta bernilai jual. Meskipun artikel ini lebih menitikberatkan kepada pengguna DSLR (dan juga mirrorless), jenis kamera lainnya seperti kamera saku dan smartphone juga dapat mengikuti isi artikel ini.

Pertama, kenalilah dulu gear (kamera) yang digunakan dan beradaptasilah dengannya.
Jika Anda benar-benar baru dalam menggunakan gear, step ini sangat esensial. Fotografer amatir bahkan pro sekalipun juga beradaptasi terlebih dahulu saat mereka menggunakan gear yang berbeda. Anda dapat melakukannya dengan mencoba-coba memegang kamera, bersikap membidik objek, dan sebagainya. Telusuri dan pelajari jenis-jenis kamera dan lensa, pahami jenis-fungsi komponen-komponen gear Anda secara umum, dan pelajari fitur apa saja yang dimiliki. Dengan demikian, Anda dapat tahu fitur apa saja yang akan digunakan nantinya dan mendorong untuk mengaplikasikan fitur lainnya saat pemotretan. Pelajari pula teknis-teknis penanganan kamera seperti bagaimana cara melepas-pasang lensa, membersihkan debu dan kotoran di dalam bodi kamera (berhati-hatilah dengan yang satu ini), membersihkan bagian luar kamera, dan penyimpanannya, karena kamera sangat sensitif terhadap suhu dan kelembapan, serta troubleshooting-nya. Anda mungkin ingin melewati (skip) langkah yang ini, namun sangat disarankan untuk mengikuti langkah ini terlebih dahulu. Jangan sampai Anda sudah mahir menggunakan kamera (dari segi teknis pemotretan) tapi masih meminta bantuan teman hanya untuk mengganti lensa ataupun hal lainnya yang sebenarnya bisa dilakukan sendiri.

Kedua, pelajarilah mengenai komposisi (penempatan objek dan elemen-elemen pada foto) dan pencahayaan yang mana merupakan salah satu komponen vital dalam fotografi.
Komposisi dan pencahayaan yang buruk akan membuat foto menjadi tidak menarik bahkan jelek. Praktekkan cara menyusun foto dengan berbagai komposisi seperti Rule of Third, Fibonacci, diagonal, Golden Spiral, elemen seperti garis, warna, bentuk, dan tekstur, serta pencahayaan dari berbagai sudut dan berbagai sumber cahaya (lampu, lilin, dan sebagainya). Pencahayaan yang unik akan memberi nilai tambah bagi foto Anda. Selama mempelajari kedua hal tersebut, Anda dapat menggunakan mode Full Auto terlebih dulu jika ingin memotret tanpa harus mengatur-atur exposure, namun akan lebih baik jika Anda langsung mencoba-coba mode semi-auto (mode Aperture Priority, A / Av atau Shutter Priority, S / Tv) atau bahkan mode Manual. Ini akan membuat Anda cepat mahir menggunakan kamera. Jangan lupa pelajari mengenai pengukuran cahaya (metering) kamera Anda. Anda juga jangan terlalu terpaku pada pembelajaran mengenai komposisi dan pencahayaan di atas, tetaplah memotret apa yang Anda mau dan perlukan. Jangan malu untuk memotret dengan mode auto jika Anda masih pertama belajar, karena semua fotografer awalnya juga seperti itu, termasuk saya sendiri.

Ketiga, saat Anda merasa jenuh dengan mode otomatis, cobalah berpindah ke mode semi-otomatis.
Di sinilah pengetahuan mengenai Exposure Triangle (Segitiga Eksposur, terdiri dari Aperture/Diafragma, Shutter Speed, dan ISO) sangat vital. Adalah percuma jika Anda menggunakan kedua mode semi-otomatis tanpa memahami tiga unsur penting pembentuk foto tersebut karena keduanya digunakan untuk situasi pemotretan yang berbeda. Contohnya, mode A/Av digunakan untuk situasi di mana harus mengatur area fokus yang diperlukan untuk jenis objek yang berbeda-beda atau mode S/Tv untuk membekukan atau memberi efek gerakan pada objek. Keduanya memiliki keuntungan: kita tetap mengatur eksposur tanpa khawatir kehilangan momen, sehingga kita dapat dengan cepat menangkap suatu momen istimewa. Selain itu, beberapa teknik fotografi juga memerlukan setidaknya mode semi-otomatis dan tidak bisa menggunakan mode otomatis, contoh gampangnya adalah teknik panning dan blurring, keduanya menggunakan shutter speed yang lambat yang mana hanya bisa diatur secara manual dengan mode S/Tv atau Manual.

Keempat, setelah Anda jenuh menggunakan mode semi-otomatis dan sudah memahami konsep segitiga eksposur, inilah saatnya Anda menggunakan mode Manual, yang mana merupakan salah satu indikator kemahiran seorang fotografer.
Mode ini memang tak bisa digunakan di setiap situasi pemotretan, tetapi tetap penting untuk dikuasai. Di sekolah atau kursus fotografi, mode Manual atau M merupakan satu-satunya mode yang langsung dipelajari setelah mendapatkan materi mengenai segitiga eksposur dan wajib untuk dikuasai. Jika belum menguasai mode ini maka belum bisa disebut sebagai fotografer handal meskipun foto yang dihasilkan sangat bagus dan menarik. Kamera jadul pun bahkan hampir semuanya merupakan kamera manual (analog). Pada jaman dulu tidak ada otomatisasi dalam fotografi sehingga penggunaan mode manual pada kamera digital pun sangat penting agar fotografer masa kini tetap sama handalnya dengan fotografer tempo dulu.

Terakhir, selama mempelajari fotografi apapun jenis gear-nya, cobalah untuk menjadi fotografer generalis (multigenre).
Jangan hanya terpaku mendalami satu jenis genre saja seperti misalnya hanya memotret portraiture, hanya memotret still life, hanya memotret landscape dan sebagainya. Berkecimpunglah pada banyak genre. Ini akan membuat galeri portofolio Anda menjadi lebih beragam, menimbulkan kesan bahwa Anda adalah fotografer serba bisa, dan tentunya banyak teknik yang Anda kuasai karena beberapa genre menggunakan teknik yang berbeda. Jika bosan memotret portraiture, Anda bisa membuat foto dengan genre lainnya seperti macro photography, landscape, atau street photography. Ketika Anda sudah “dinyatakan lulus”, Anda tetap bisa menjadi fotografer multigenre atau mendalami spesialisasi tertentu. Jika dari awal hanya mendalami satu genre, Anda hanya akan selamanya berkutat dan berkutik bahkan “terjebak” di genre tersebut, portofolio pun terasa monoton dan tidak ada variasinya karena objeknya hanya itu-itu saja. Juga, dari segi komersial, fotografer multigenre pun lebih banyak menghasilkan uang ketimbang spesialis karena orderan yang diterima lebih banyak; ada yang order foto lanskap, prewedding, produk, olahraga, dan lain-lain sehingga keuntungan menjadi berlipat ganda. Hanya saja diperlukan ekstra waktu dan tenaga (dan juga gear) jika mau menjadi fotografer generalis atau multigenre.

Pendek kata, mempelajari fotografi adalah mudah asal kita mempelajarinya secara bertahap, apalagi jaman sekarang fotografi sudah dapat ditekuni semua orang. Sembari mempelajari teknik-teknik fotografi kita juga perdalam bermacam-macam genre. Setelah kita mahir, tentukan jalan selanjutnya apakah fotografi akan menjadi sekedar hobi saja atau menjadi lahan bisnis, dan apakah kita menjadi fotografer generalis atau spesialis. It’s all up to you, you decide! (ded/ded)
star Terpopuler