keluarga
Keluarga
KELUARGA Jumat, 19/05/2017 15:21 WIB

Diare Karena Susu Bukan Berarti Berhenti Minum Susu

Diare Karena Susu Bukan Berarti Berhenti Minum Susu Menuang susu. (Foto: Couleur/Pixabay)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pernahkah kamu mengalami sakit perut, diare, mual, dan kembung sesaat setelah minum susu? Jika ya, maka ada peluang kamu mengidap intoleransi laktosa, yaitu ketidakmampuan sistem pencernaan untuk mengurai dan menyerap gula laktosa dalam susu akibat kekurangan enzim laktase.

Intoleransi laktosa merupakan ‘penyakit’ yang banyak terjadi terutama pada masyarakat Asia, Amerika Selatan, dan Afrika.

Laktosa merupakan gula disakarida yang tersusun atas gula glukosa dan galaktosa. Laktosa dalam bentuk bebas hanya dapat ditemukan pada susu mamalia.

Dalam sistem pencernaan manusia, laktosa harus diurai terlebih dahulu menjadi gula glukosa dan galaktosa agar proses penyerapan dalam usus halus dapat berlangsung. Proses penguraian gula laktosa dalam sistem pencernaan dilakukan dengan bantuan enzim laktase pada usus halus.

Kekurangan enzim laktase pada usus halus dapat memperlambat proses penguraian laktosa, kemudian menyebabkan penumpukan laktosa dalam sistem pencernaan. Laktosa yang menumpuk akan diteruskan ke usus besar, kemudian difermentasi oleh mikroorganisme dalam usus besar. Hasil akhirnya berupa asam laktat, gas metana (CH4), dan hidrogen (H2).

Berhenti Minum Susu?
Beberapa orang yang memiliki penyakit intoleransi laktosa dan tidak mengetahui tentang tersebut mungkin akan memilih untuk berhenti mengonsumsi susu. Tindakan ini tidak dianjurkan karena susu memegang peranan penting sebagai penyedia nutrisi. Susu mengandung mineral yang penting untuk tubuh, seperti kalsium dan fosfor. Susu juga kaya akan lisin dan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.

Selain menghentikan konsumsi susu, beberapa orang juga berpikiran mengencerkan susu dapat mengurangi kemungkinan sakit perut akibat mengonsumsi susu. Langkah ini kurang tepat karena dengan pengenceran, setiap nutrisi pada susu akan ikut terencerkan. Akibatnya nutrisi yang seharusnya dapat kita peroleh dari satu gelas susu menjadi berkurang.

Susu Nabati
Dalam perkembangannya, susu nabati seperti susu kedelai merupakan produk substitusi susu sapi yang muncul akibat tingginya harga produk susu sapi. Susu kedelai tidak mengandung laktosa, yang berarti susu ini cukup aman untuk diminum penderita intoleransi laktosa.

Susu kedelai memiliki beberapa kekurangan dibandingkan susu sapi. Salah satunya jumlah mineral kalsium dalam susu kedelai tidak sebanyak susu sapi. Susu kedelai murni hanya mengandung seperempat kalsium yang ada pada susu sapi.

Beberapa produsen mencoba mengatasi masalah ini dengan menambahkan kalsium selama proses pengolahan, namun studi menunjukkan penambahan kalsium selama proses pengolahan tidak memberikan manfaat sebaik kalsium alami. Kekurangan susu kedelai yang lain adalah seringnya muncul flavor dan aroma yang tidak diinginkan, seperti bau tengik dan rasa pahit pada susu kedelai.

Susu Bebas Laktosa
Saat ini telah banyak berkembang susu yang tidak mengandung atau sedikit mengandung laktosa. Produsen umumnya melakukan penambahan enzim laktase selama proses pengolahan susu. Akibat penambahan enzim laktase, gula laktosa dalam susu dapat dipecah menjadi gula glukosa dan galaktosa.

Sifat glukosa dan galaktosa yang manis menyebabkan penambahan gula tidak lagi diperlukan diperlukan dalam jumlah sedikit pada produk susu. Produk susu bebas laktosa di pasar Indonesia diberikan tanda khusus berupa label ‘Bebas Laktosa’. Susu dengan tanda bebas laktosa berarti 99,9% kandungan laktosa dalam susu telah diurai atau dihilangkan.

Produk Susu Fermentasi
Yogurt, Yakult, dan Kefir adalah beberapa contoh produk susu fermentasi, yaitu produk susu yang telah mendapat perlakuan fermentasi oleh mikroorganisme tertentu. Umumnya, susu fermentasi mengandung probiotik, mikroba hidup yang bermanfaat bagi manusia terutama dalam saluran pencernaan.

Setiap produk susu fermentasi memiliki jenis bakteri probiotik yang berbeda-beda. Yogurt dengan bakteri Lactobacillus bulgaricus, dan Streptococcus thermophilus. Yakult dengan bakteri Lactobacillus casei. Salah satu metabolit hasil fermentasi oleh bakteri asam laktat pada laktosa adalah asam laktat, yang menyebabkan media fermentasi (dalam kasus ini adalah susu) menjadi asam.

Inilah alasan mengapa produk-produk olahan susu pada umumnya memiliki ciri khas rasa asam. Proses fermentasi tersebut dapat menurunkan kadar laktosa pada susu, sehingga penderita intoleransi laktosa dapat mengonsumsi susu tanpa perlu khawatir dengan sakit yang biasanya timbul setelah minum susu.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan jika penyakit intoleransi laktosa tidak harus diselesaikan dengan berhenti minum susu. Konsumsi produk susu olahan atau susu dengan kadar laktosa rendah dapat menjadi solusi bagi mereka yang mengidap intoleransi laktosa. (ded/ded)
star Terpopuler