inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Jumat, 10/02/2017 15:33 WIB

Agar Tak Terjebak Persepsi Instan Ala Media Abal-Abal

Agar Tak Terjebak Persepsi Instan Ala Media Abal-Abal Foto: ANTARA FOTO/Mohammad Ayudha
Jakarta, CNN Indonesia -- Masyarakat Indonesia saat ini lebih cenderung melakukan komunikasi sebagai sebuah proses transaksi, di mana peran media masa memberikan dampak yang sangat besar dalam menggiring pemahaman dan persepsi publik sebagai penikmat informasi.

Karena hakekat dari sebuah media masa adalah membeberkan segala macam informasi kepada publik, oleh karena itu tidak ada satupun ruang yang dijadikan hampa oleh para pemburu berita untuk memuaskan hasrat keingintahuan pemirsanya.

Informasi yang disajikanpun beragam, mulai dari berita yang paling kontroversial, menghibur, sampai kepada berita tentang urusun rumah tangga orang lain tidak luput menjadi sasaran mereka (pemburu berita).

Peran yang dimiliki media masa lewat juru tulisnya (jurnalis) mampu mendobrak tatanan suatu masyarakat, sebuah peran yang mulia dan disegani oleh sebagian kalangan, terutama bagi pejabat publik (yang takut kedoknya diberitakan oleh media), maka tidak mengherankan bila Napoleon Bonaparte pernah mengatakan “Saya lebih takut pada seorang jurnalis dengan penanya dari pada seribu tentara dengan bayonetnya”.

Pada era seperti saat sekarang ini, media masa dan segala macam unsur yang melengkapinya sudah bukan lagi sebagai kebutuhan primer masyarakat kontemporer. Ia sudah menjadi kebutuhan pokok yang tidak hanya dijadikan sebagai pelengkap saja, namun sudah menjadi satu bagian yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.
 
Banyak media yang masih mempertahankan idealismenya sebagai urat nadi penyambung persepsi publik yang kaffah sehingga akan selalu menyampaikan informasi yang sahih kepada para pembaca/pendengar. Namun ada banyak pula media yang tidak memperhatikan norma-norma kesopanan dalam menyampaikan sebuah berita, seperti menggunakan head (judul berita) yang terlalu lebai dan tidak berprikemanusiaan, seringnya membawa istilah-istilah salah satu agama untuk menarik perhatian para penikmat berita sehingga bisa saja menyudutkan salah satu agama yang dimaksud (walaupun niatnya bukan ingin memprovokasi), konten yang terlalu berlebihan juga sering menjadi permasalahan utama dalam penyajian berita, mementingkan ego pribadi seorang pemburu berita sehingga ketika tidak senang terhadap suatu tokoh atau objek pemberitaan maka akan cendrung lebih menggunakan narasi yang berapi-api dan menyalurkan amarahnya lewat konten yang disajikan.

Namun pasti, masyarakat yang cerdas akan mampu membedakan mana berita yang baik untuk dikonsumsi dan mana berita yang tidak pantas untuk dijadikan sebagai referensi.

Sikap kita yang tidak terlalu ambil pusing dalam menelusuri sumber suatu informasi sudah menjadi kebiasaan yang seharusnya jangan kita tanamkan dari saat ini, karena dari persepsi itulah akan muncul sebuah pemahaman kemudian berlanjut menjadi sebuah doktrin yang tertancap di alam bawah sadar kita sehingga “mungkin saja” akan berlanjut pada suatu tindakan.

Di tengah teknologi yang menghadirkan banyak praktek instan, belakangan ini banyak sekali bermunculan media-media online berbasis internet yang siap menyuguhkan beragam informasi yang diinginkan, sehingga dunia jurnalistik pun sudah semakin beragam jenis dan bentuknya. Setiap orang berhak dan memiliki kesempatan menjadi seorang jurnalis (wartawan) tanpa harus menyandang kartu identitas dan tanpa harus memiliki perusahaan pendukung yang menyokong karya tulisnya.

Tidak bisa dipungkiri, ini adalah sebuah fakta yang saat ini terjadi dan sedang melanda negeri ini, penduduknya yang beragam etnis, agama dan budaya mampu dipengaruhi oleh seorang juru tulis, pengaruhnya yang sangat strategis tersebut menjadikan ia sebagai seorang yang mulia dan dielu-elukan oleh setiap orang, karena melalui pengaruhnya itulah seorang bisa menjadi tenar dan berjaya dan melalui pengaruhnya itu jugalah seorang bisa menjadi hancur dan terhina.

Dan yang menjadi tugas kita bersama saat ini adalah, kepada media manakah kita akan menaruh kepercayaan kita (karena tidak semua media menyadur informasi dari sumber yang kaffah) dan menjadikannya sebagai sebuah referensi untuk menambah wawasan dan persepsi kita sebagai seorang yang berfikir (cogito ergo sum).

Namun yang lebih pentingnya lagi adalah, kita sebagai penikmat berita hendaknya lebih kritis dalam menelaah suatu informasi dan tidak langsung menaruh suatu persepsi untuk kita jadikan sebagai suatu kebenaran. Ada baiknya kita juga menulusuri dari beragam sumber dan mencoba untuk menafsirkan arus informasi tersebut dari berbagai macam sudut interpretasi. (ded/ded)
star Terpopuler