inspirasi
Inspirasi
INSPIRASI Sabtu, 04/02/2017 10:09 WIB

Cerita Pendek: Bukit Cinta Bagi Semua

Cerita Pendek: Bukit Cinta Bagi Semua Foto: pixabay/pexels
Jakarta, CNN Indonesia -- Dari ketinggian puncak dunia Sin melempar bunga-bunga krisan ke udara, ke segala arah, kelopaknya melepas berubah rupa menjadi burung-burung perdamaian menuju delapan penjuru mata angin. “Cinta Bunda untukmu di mana pun kau berada, sekalipun kini kau membuka tanganmu di pintu langit, Bunda merasakannya sayang…”

“Tempatmu seharusnya di sini, telah kosong, aku bersama Amaranis dan saudaramu Ams. Kami hanya ingin menyapamu, sampai jumpa pada waktu yang kau kehendaki.” Suara Bunda. Amaranis, terkaca matanya, meski tak seharusnya dia terharu dalam hari sesuka ini, tak terlupakan ketika dia akan dianiyaya sebab fitnah, hal salah paham, entah dari mana datangnya, Kor, muncul di antara dia dan orang banyak.

“Bunda? Mimpi lagi?” Suara Ams. Zachriah memeluk Ams. “Iya. Bunda mimpi sama persis.” Ams, menengok ke jam di dinding kamar kontrakan. “Waktunya sama Bun.”

Mereka bergegas menyiapkan segala kepentingan sebagaimana biasanya sepagi itu. Segera Bunda mengantar Ams kesekolah. “Bunda nanti di mana, di Terminal atau di halte bus dekat pasar, berakhirnya?” Bunda mengangguk, Ams sungkem pada Bunda. Segera berlari masuk ke halaman sekolah. Bunda meneruskan perjalanan mengayuh sepeda menuju terminal, di tunggu pelanggan sarapannya.

Ams, menuju pulang bersama Bundanya. “Hari ini ada tugas sekolahkah?” Zachriah, sambil mengayuh sepeda. “Membuat karangan tentang aktivitas sehari-hari Bun.” Girang suara Ams.

Lintasan waktu pada putaran cepat siklus pararel, menunjukan keadaan cuaca sama persis. Serombongan tentara imperium berkuda keluar masuk dari desa ke desa. Sin melihat dari kejauhan. Amaranis dan Ams, segera berdiri berdampingan, Sin tepat di tengahnya. Melihat di kejauhan rombongan tentara imperium menuju arah Taman Cinta Bagi Semua.

Ketiganya melesat bersejajar dengan jarak cukup jauh mengikuti arah rombongan tentara itu. “Aku harus mendahului tentara imperium.” Sin melesat dengan kecepatan penuh. Melihat tindakan itu Amaranis dan Ams. Menyusul di belakangnya, agak tertinggal jauh di belakang Sin.

Sin tiba lebih dulu, Kor, anaknya tidak di tempat. Sin memeriksa sekeliling hingga ke gudang tempat Kor biasa memahat kayu dan Ayahnya. Tak berapa lama Amaranis dan Ams tiba, ingin mengatakan sesuatu. Sin cepat menyela. “Aku menemukan tanda ini.” Sin memperlihatkan potongan kayu kecil berbentuk semacam simbol penanda. “Ayah pasti di lereng bukit sisi Timur bersama Kor, tempat mereka bercengkerama.” Ujar Ams.

Ketiganya melesat cepat menuju bukit sisi Timur. Benar, Ayah sedang tafakur. Ketiganya mendekat pelahan. “Duduklah kalian di sini.” Ayah mempersilakan. Keadaan menjadi hening meski terang di siang menuju sore. Sin ingin memberi tahu, namun Ayah mendahului dengan jawaban. “Dia tahu, waktunya telah tiba.” Suara Ayah datar.

Bunda secepat kilat mengayuh sepeda menuju sekolah, berdampingan dengan Ibu Guru pemberi kabar, berdampingan, keduanya tampak gusar dan ingin segera tiba di sekolah. Namun jarak terasa semakin jauh, sebab perasaan keduanya mencoba mempercepat waktu.

Bunda dan Bu Guru segera menuju ruang kepala sekolah telah di penuhi murid-murid. Ams tampak ditidurkan di atas dua meja disatukan, di ruang itu. “Anak Bunda bangkitlah, demi Bunda.” Doa Bunda Ams di nuraninya. Setelah kepala sekolah menjelaskan.

Daun sirih tergulung masih di dua lubang hidung Ams, dan sedikit sisa darah mimisan, ada di bajunya sedikit. “Bunda?” Ams membuka mata sedikit dengan senyuman khasnya.

“Ya Ams. Bunda, bersama semua guru dan kawan-kawanmu ada di ruang ini. Kurangi dulu ya main layang-layang di terik matahari, selama kesehatanmu belum pulih. Janji?” Suara Bunda Sabar. Ams membuka mata lebih lebar, ada janji di senyuman khasnya.

Kor, terlihat tafakur dengan doa khusuk di Taman Cinta Bagi Semua, tempat dia senantiasa bercengkerama dengan para sahabat-sahabatnya dari berbagai desa. Tempat Membincangkan banyak hal, tentang berbagai ilmu pengetahuan kehidupan. (ded/ded)
star Terpopuler