edukasi
Edukasi
EDUKASI Senin, 19/06/2017 14:18 WIB

Apakah Plagiarisme Itu?

Apakah Plagiarisme Itu? Ilustrasi menulis (Foto: Picjumbo/Viktor Hanacek)
Jakarta, CNN Indonesia -- Balon warna-warni diterbangkan angin ke angkasa. Siapa pemilik angin? Dari mana balon itu memiliki warna senyawa proses pewarnaan kimiawi zat awal menjadi balon. Tampak transparan diterpa cahaya matahari menuju alam langit. Indah nian tampak mata.

Menurut KBBI plagiarisme adalah "Penjiplakan yang melanggar hak cipta". Apakah plagiarisme, termasuk warna balon itu?

Barangkali hidup sebenarnya senantiasa indah jika tak ada durjana maling uang negara. Dunia pendidikan akan lebih cepat mencapai tujuan, hak-hak pelajar Indonesia di perbatasan negeri ini akan lebih cepat memiliki sekolah lebih banyak, membangun kelas pendidikan dasar hingga universitas lebih banyak, tak perlu bersusah payah belajar di kota lain.

Meski ada baiknya juga belajar ke kota lain, bagai pertukaran edukasi budaya keluarga sebangsa, sesuai kemampuan dana personal. Pendidikan sekelas universitas barangkali cukup mahal. Bersyukur pembangunan wilayah perbatasan konon tengah giat berdaya bangun untuk mengejar kecepatan pendidikan menuju cita-cita ke berbagai sektor budaya, pendidikan modern.

Meski metropolis di mana pun sebenarnya kini, dulu, awalnya sama dan sebangun juga disebut desa perbatasan oleh kaum kolonial. Lalu terjadi istilah urbanisasi kebudayaan, lalu ada sebutan dari kota ke desa atau semacam geo-migrasi kebudayaan. Zaman cerdas melampaui perubahan terjadi dengan cepat lewat pasar global teknologi.

Kini, semua terjadi bagai secara ajaib, ada mesin bisa mengeluarkan uang, seperti ada jin berdiam di dalam mesin uang itu. Kadang lucu juga melihat lembaran mata uang rupiah keluar dari mulut sebuah box besar. Di sela planet bumi tengah menuju perubahan besar hiper teknologi, telah meninggalkan era kebudayaan industri meski masih jadi pelengkap teknologi terkini, barangkali.

Berpengaruh pada perilaku makhluk hidup dari jasad renik hingga peradaban intelegensi, bahkan atom telah dapat dihitung meski dengan alibi dasar serba tak terhingga atau nisbi. Disiplin ilmu matematik tetap mengakui nol sebagai bilangan angka bernilai sains tak sekadar pelengkap angka satu sampai dengan sembilan, sebab tak akan ada angka sepuluh jika tak ada angka nol.

Maka bertemu dayaguna kumparan dari nol menuju angka-angka kembali ke nol dengan tombol on atau off pada kaidah teknologi ringan sampai canggih, hingga perilaku makhluk hidup, kenyang jika makan lapar jika belum makan, kedua habitat kenyang dan lapar, tanpa kontrol intelegensi kedua hal itu mampu mengganggu metabolisme sel-sel hidup dalam tubuh, mungkin.

Lantas dari mana ikan hias memiliki warna indah, di luar dugaan imajinasi terbatas makhluk hidup-selalu berbudaya baik dan benar. Sains mengatakan, makhluk manusia disebut sempurna di antara makhluk hidup di planet Bumi, baik dalam perilaku maupun dalam tata laku sosialnya, memiliki spiritualitas kemanusiaan bersumber dari Zat Ilahiah tak serupa apapun.

Penyebab terbentuknya kehidupan, dari koloni-koloni nomaden, terjadi saling silang peniruan perilaku pola hidup atas kesadaran pengamatan intelegensi manusia kepada alam sekitar, berkembang menjadi lebih luas dari personal kultur hingga menuju geo-kultur, hingga membentuk habitat dalam proses hegemoni sosialnya, melahirkan disiplin-disiplin.

Hingga pencapaian peradaban sosial dan sains seirama pola kontrol pada intelegensi kesadaran hidup penciptaan, temuan-temuan berdasarkan klimaks pada batas super ilmu pengetahuan makhluk manusia. Batas pengetahuan itu lahir dari bongkar pasang peniruan adab peradaban sebelumnya, sepanjang makhluk hidup, bernapas.

Oleh sebab bernapas itu barangkali kesadaran pada perilaku peniruan, mungkin akan terus ada berlangsung selama zaman kehidupan masih ada. Itu sebabnya gajah mendidik anaknya untuk bertahan, memberi pelajaran mempertahankan rantai makanan pada habitat sosialnya. Orangutan mengajari keluarganya tertib dan menyusui anaknya.

Itu sebabnya pula manusia dewasa wajib memberi contoh baik dan benar pada generasi lebih muda. Si besar wajib memberi contoh si kecil. Manusia dewasa berkewajiban membimbing Adik dan Kakak, semisal, mungkin melakukan kesalahan dalam proses belajar menuju pilihan cita-cita hidup. Bukan lantas karena salah, kemudian dipermalukan di media modern kini. Mengapa?

Tak ada langkah awal lantas berhasil benar dan baik, tetap melalui tahap belajar bagi semua makhluk hidup. Semua benih apapun akan tumbuh lewat proses alamiah awal. Jika dia jenis tumbuhan, manusia pemiliknya wajib menyiram secara berkala, agar menjadi pohon bermanfaat memberi kesejukan, memberi oksigen untuk manusia pemiliknya.

Itu sebabnya pula, berhenti sekarang jadi pencuri uang negara. Berhenti jadi manipulator koruptor pengkhianat negara. Perilaku tidak senonoh itu setiap kali muncul di media modern, disaksikan pelajar dan mahasiswa Indonesia. Jadi, berhentilah korupsi wahai para manipulator. (ded/ded)
star Terpopuler