edukasi
Edukasi
EDUKASI Senin, 19/06/2017 14:54 WIB

Menempa Kujang Jadi Bilah Pusaka

Menempa Kujang Jadi Bilah Pusaka Tugu Kujang di Bogor. Tugu ini memperlihatkan bentuk kujang di puncaknya. (Foto: CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H)
Bandung, CNN Indonesia -- “Awalnya kami ingin menunjukkan kecintaan kami terhadap kebudayaan, khususnya di bidang penempaan.” Begitulah rasa cinta Ibnu Pratomo terhadap kebudayaan, mengantarkan pria ini membentuk sebuah komunitas tempa di Bandung bersama beberapa kawannya.

Pijar Komunitas Tempa Bandung, menjadi identitas yang digunakan komunitas ini. Terbentuk pada 2012 lalu dan bermarkas di Jalan Salatiga Nomor 36, Antapani Kidul Bandung, Jawa Barat. Ibnu biasa menempa logam maupun besi untuk dijadikan sebuah bilah pusaka. Dari Pijar, Ibnu dan kawan-kawan berusaha melestarikan dan menjaga aset negara seperti kujang dan keris yang merupakan peninggalan leluhur bangsa.

“Latarbelakangnya adalah mencari atau menyaring anak muda yang bisa kita ajak untuk ikut melestarikan budaya penempaan ini," ujar Ibnu.

Kini, komunitas berbasis tradisi khususnya di bidang penempaan bisa dikatakan tidak banyak. Melalui komunitas-komunitas seperti Pijar inilah pintu untuk menyebarkan nilai-nilai luhur peninggalan budaya bangsa terbuka. Khususnya, nilai-nilai yang terkandung pada kujang sebagai bilah pusaka yang identik dengan masyarakat Jawa Barat.

Dalam proses penempaannya, terdapat proses panjang yang harus dilakukan dalam pembuatan kujang ini. Contohnya, sebelum seorang penempa itu menempa kujang haruslah diadakan sebuah upacara guna menyampaikan nilai-nilai yang terkandung di dalam sebuah bilah pusaka itu.

“Dalam upacara ini, siapa yang menginginkan kujang, siapa yang membuat, dan semua orang yang terlibat harus ikut upacara guna menyampaikan nilai yang terkandung dalam kujang," ujar Ibnu yang juga lulusan S2 Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB).

Tumpeng, gunungan, bakakak hayam, kelapa muda, dan kujang itu sendiri menjadi ‘sesajen’ yang hadir di setiap upacara yang dilakukan. Kemudian dalam prosesnya, akan selalu diiringi oleh sebuah pupuh atau puisi berisi wejangan dalam bahasa Sunda.

Setiap elemen atau unsur dalam upacara tersebut membawa sebuah nilai-nilai kehidupan yang mencerminkan si calon pemilik kujang tersebut. Hal inilah yang menjadikan kujang membawa nilai ‘Kawaluyaan’ atau nilai-nilai dalam kehidupan yang diharapkan dapat diterapkan oleh si pemilik dalam kehidupannya sehari-hari.

“Kalau memang kujang diposisikan sebagai pusaka, artinya dia harus membawa nilai dan nilai-nilai itu yang harus disampaikan di awal. Sehingga, si calon pemilik ini paham bahwa kujang ini membawa nilai dan memiliki isi," kata Ibnu menambahkan.

Selepas proses upacara berlangsung, proses selanjutnya dalam pembuatan kujang adalah penempaan itu sendiri. Pada proses penempaan, bahan dasar kujang dihasilkan dari percampuran logam yang terdiri dari baja, besi, dan nikel. Pencampuran ini akan menghasilkan pamor yang memiliki ketajaman, fleksibilitas, dan kekuatan.

Setelah ditempa dan dibentuk menjadi kujang, proses yang tak kalah esensial lagi adalah proses sipuh atau sepuh yang dalam Bahasa Indonesia adalah tua. Proses ini merupakan proses menuakan kujang sendiri juga si pemiliknya.

“Maka sewajarnya orang yang nantinya memiliki kujang juga ikut disepuh dengan nilai yang terkandung dalam kujang. Sehingga dia bisa menjadi bijak, menjadi tua. Bukan tua fisiknya tapi tua batinnya, tua pemikirannya.”

Ibnu mengatakan bahwa jika dibandingkan dengan zaman dulu, proses pembuatan kujang di masa sekarang tentunya ada perubahan yang mendasar yang mengikuti zaman. Seperti perubahan peralatan yang digunakan dan kondisi ketika mencari bahan baku kujang. Jika dulu dirasa sulit untuk mencari bahannya sekarang bisa lebih mudah untuk mencarinya, seperti mencarinya di pasar besi atau didapatkan dari supplier.

“Dari perbedaan sekarang ini, yang tetap kami pertahankan adalah upacara agar nilai yang terkandung tetap tersampaikan.”

Proses panjang dalam pembuatan kujang ini menjadi tidak main-main. Ibnu menambahkan dalam membuat kujang sangat dituntut kesiapan sang calon pemilik, baik secara finansial ataupun secara esensial. Kesiapan ini dituntut karena kujang di sini diposisikan sebagai benda pusaka yang memiliki nilai luhur dalam hidup.

Posisi kujang sebagai benda pusaka menjadikan Ibnu sebagai penempa kujang harus mengenal dekat dengan si calon pemilik kujang tersebut. Mulai dari latar belakang, psikologisnya, energi yang dibawanya, dan lain-lain. Hal ini karena pada dasarnya kujang adalah representasi dari si pemiliknya.

“Jadi tidak hanya memesan, dibutuhkan juga soal pemahaman. Karena kujang juga butuh dirawat, secara fisik dia bisa berkarat. Tapi secara nilainya juga harus dirawat, itu yang susah!”

Pemahaman soal kujang di masyarakat pun kini telah bergeser. Dari menjadi benda pusaka, kini kujang dianggap sebagai senjata, perkakas, ataupun souvenir. Hal ini cukup membuat miris ayah tiga orang itu sebagai seorang penempa benda pusaka. Dari nilai yang terkandung, proses yang cukup panjang, dan pengamalan nilai yang terkandung di dalam kujang menjadi tiga poin yang memang harus dimengerti masyarakat atau calon pemilik kujang. “Pemahaman kujang sebagai souvenir membuat posisi kujang sebagai benda pusaka terperosok," katanya. (ded/ded)
star Terpopuler